Jumat, 12 Januari 2018

Harga Sebuah Kejujuran (Day9)



Bismillahirrohmanirrohiim ...

Hari kesembilan.

Berkata jujur adalah perbuatan baik yang sering kita abaikan karena pertimbangan banyak hal dan rasa. Kadang memilih untuk tidak melakukannya, meski kita tahu bahwa itu salah.Berkata jujur memang butuh keberanian .... karena tidak semua orang mau menerima kejujuran kita.


Jujur adalah salah satu sikap yang selalu saya tanamkan ke anak-anak. Harga mati, tidak bisa ditawar. Karena buat saya nilai seseorang bisa dilihat dari kejujuran perkataan dan perbuatannya. Kejujuran juga menjadi parameter kebaikan orang. Dan menjadi orang baik, menurut saya adalah sesungguhnya fitrah kita sebagai manusia.

Kejujuran mungkin menjadi berat untuk dilakukan orang karena banyak yang tidak bisa menerima kejujuran dengan hati terbuka dan kepala yang dingin. Kadang, kejujuran memang menyakitkan, nggak enak untuk didengar dan dilihat. Bahkan seringkali, kita yang justru merasakan pahitnya bicara jujur. Mulai dari tidak disukai, dikucilkan, dibenci .... Tapi, memang itulah harganya. Tidak murah memang.


Hari ini Jani cerita kalau dia harus meyakinkan temannya untuk berkata jujur terhadap sesuatu yang sudah dilakukannya. Sesuatu yang menurut Jani tidak benar. Meyakinkan temannya, Cindy, kalau dia jujur, maka ketakutan dan rasa malunya adalah hal yang biasa. Meski kata Jani, awalnya temannya sangat berat untuk berkata jujur, akhirnya mau tidak mau harus mengakui kalau itu adalah perbuatannya. 

"Kok, susah banget ya bun tinggal ngomong aja kalau memang dia yang melakukannya?"
"Mungkin malu dek", pancing saya.
"Ya ... mau gimana? Daripada kayak tadi, sudah ngotot-ngotot bilang nggak, ngaak ... eh taunya emang benar dia. Itukan yang lebih malu bun".
"Untung tadi Cindy mau ngomong jujur ... tak kasih tau bun, buat jujur aja. Kalau nggak jujur, nanti dosanya dicatat malaikat dan nggak bakalan dikabulin doa-doanya sama Allah, ya kan Bun?"

Hehehehe ... saya memang sering bilang ke Jani, dan juga kedua kakaknya bahwa JUJUR adalah hal utama dalam hidup. Kalau kita sudah terbiasa tidak jujur, bagaimana Allah akan melimpahkan berkah dan rahmatnya untuk kita? Ntar hidup kita bakalan susah terus, nggak nyaman dan nggak enak banget. 
Dan itulah yang "nancep" ke Jani. 

Senangnya, Jani mulai menunjukkan kecerdasan spiritualnya. Memahami hakekat dari sebuah perbuatan baik dan buruk. Dia juga memahami bahwa sebuah perbuatan ada akibatnya. Dan kita harus siap dengan akibat dari perbuatan itu. Dan mencoba memilih hal yang bener meski resikonya tidak lebih baik. Secara emosional dan intelektualpun,  dia mampu memahami perasaan temannya dan menempatkan dirinya dengan baik dan benar. Menyampaikan dengan baik apa yang menurutnya benar tanpa memaksa temannya untuk melakukannya. 

Semoga kelak, selalu berpegang teguh dengan nilai-nilai kebaikan dalam hidupmu ya Nak.

#tantangan_hari_ke_9
#kuliahbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...