Minggu, 04 Februari 2018

Diskusi Itu Mengasyikkan



Entah kenapa saya merasa agak "mentok" ditantangan kali ini. Mood Jani yag berubah-ubah dan beberapa pekerjaan kantor dan beberapa laporan yang belum tergarap, cukup mempengaruhi mood saya juga menjalankan tantangan ini dengan mulus. Beberapa rencana akhirnya kandas sebelum sempat dieksekusi. Duh, kayaknya yang paling banyak saya nih yang nyumbang salah.

Kemarin, tidak ada metode apapun yang saya lakukan untuk Jani. Saya membiarkannya beraktivitas apa saja yang dia senangi. Saya hanya mencoba benar-benar sebagai observer tanpa campur tangan sama sekali. 

Sepulang sekolah, saya ingatkan dia untuk les Keyboard di jam dua saat dia ijin ingin bermain ke rumah Rara, tetangga sebelah rumah. Saat jarum jam mendekati jam dua siang, dia sudah pulang bermain dan langsung menuju kamar mandi. Persiapan untuk berangkat les, disiapkan sendiri tanpa saya bantu. Saya hanya mengamatinya. Setengah tiga, dia minta saya untuk segera berangkat les. 

"Kata Bunda, kalau berangkat les, kita harus sudah siap jam setengah tiga loh. Ini bunda kok belum apa-apa?"

Hihihi ... saat itu saya masih di depan layar komputer, mengerjakan tugas yang belum rampung. Nah loooooo ....


Bernegosiasi ala-ala mereka
Di tempat les, sambil menunggu masuk, Jani dan teman satu kelasnya sedang bermain ayunan. Mereka bergantian dan akhirnya memutuskan untuk barengan! Hahahaha ... saya perhatikan, sejak pertama mereka mau main, mereka bernegosiasi, siapa yang dulu naik dan berapa lama naiknya sampai ketemu kata sepakat untuk menaikinya berdua. Saya cukup jelas mendengar pembicaraan mereka karena jarak duduk saya cukup dekat dengan mereka.

Ah ... ini kan Jani belajar bernegosiasi. Belajar mendengarkan pendapat orang lain dan menghargainya. Selama proses negosiasi mereka, saya amati Jani cukup baik menjadi pendengar. Pada saat temannya berbicara, dia cukup intens mendengarnya. Mengulang mengucapkan beberapa kesepakatan yang mereka sepakati, menyentuh (kontak fisik) saat berbicara dengan temannya, cukup ekspresif saat berbicara dengan suara yang cukup keras, dan kadang-kdang berbicara sambil bergerak. 


Hasil negosiasi, naik ayunan berdua 🤣🤣🤣
Saya amati, gaya auditory nya masih dominan. Ada "selingan" gaya kinestetik. Saat berbicara, tangan dan kakinya ikutan "heboh" dan sesekali menyentuh temannya untuk menarik perhatian hahahaa .... tapi selebihnya kayaknya sih auditory bangggeet.

Oh ya ... moodbooster hari kemarin adalah, laporan Jani kalau nilai-nilai ulangan paralelnya bagus, bahkan ada yang dapat nilai 100. 

"Bun, dek Jani senang banget. Soalnya ... gara-gara kita belajar kemarin itu, nilai ulanganku bagus-bagus. Aku mau belajar yang kayak kemarin ya Bun".

Aaaahh, senanglah pasti saya. Bukan soal nilai 100nya tapi lebih ke PD nya Jani yang meningkat dan rasa gembiranya yang menular. Saya tahu, Jani memang bukan anak yang menonjol di akademik dan nilainya selalu rata-rata.  Betapa bangganya dia tahu bahwa di salah satu mata pelajaran yang nilainya dia dapat 100, bisa mengalahkan si juara kelas yang nilainya hanya 85. Saya melihat bahwa dia sangat senang dan sepertinya sedikit amazed dengan hasil paralelnya hahahahaha ...


Hasil nilai Ulangan Paralelnya yang membuatnya "amazed" sendiri 🤣

Belajar kayak kemarin itu, maksudnya belajar yang saya coba dengan metode diskusi dan juga bertukar peran. Dan itu ternyata cukup berhasil untuk Jani mengingat materi pelajarannya. 

Satu poin yang saya dapati bahwa Jani sangat menyukai belajar dengan cara berdiskusi. Materi saya bacakan terlebih dahulu (dengan intonasi yang variasi tentunya) dan saya minta dia untuk membaca ulang dengan suara yang keras. Setelahnya kami mulai tanya jawab sambil diskusi seputar materi pelajarannya. Noted and I'll keep it! 

#TantanganHariKe4
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...