Kamis, 01 Februari 2018

My Auditory Girl

Don't teach me. I love to learn.


Kata-kata ini menancap di kepala saya. Pertamakali mendengar kalimat ini, saya langsung flashback ke beberapa puluh tahun lalu, terbayang suasana belajar yang untuk sebagian besar memori yang saya ingat adalah MEMBOSANKAN DAN MENAKUTKAN.

Iyaaa ... belajar itu membosankan buat saya (bila mengacu ke konsep jaman feodal, kalo istilah saya sih). Meski prestasi saya di sekolah dasar hingga kuliah, tidaklah jelek meski bukan yang terbaik, saya merasa, belajar adalah sekedar kewajiban yang harus saya gugurkan. Saya merasa tidak memiliki kebutuhan lain, selain kebutuhan saya untuk dapat nilai baik, berprestasi dengan nilai IPK yang tinggi. Semua selalu angka, angka dan angka. Seperti sudah terdoktrin bahwa angka atau nilai tinggi adalah jaminan dari sebuah level kepandaian. 

Baru saya menyadari sepenuhnya apa sebenarnya yang dibutuhkan dan didapat dari seseorang yang "benar-benar" belajar. Proses belajar yang bermakna itulah yang dicari. Dan di tantangan kali ini, game level 4, saya diminta untuk mengamati gaya belajar salah satu anak (and then pilihan jatuh ke Jani 😊). Seperti apa sebenarnya gaya belajarnya sehingga apa yang nanti akan dipelajarinya, tidak hanya sekedar diingat tapi juga akan berkesan, sehingga akan berpengaruh ke seluruh aspek dalam perkembangan dirinya.

Dengan berbagai macam tipe gaya belajar, visual, auditori dan kinestetik atau bahkan gabungan dari gaya-gaya utama tadi, saya akan mengamati selama lebih kurang dua pekan ke depan, gaya seperti apa yang Jani paling dominan cara belajarnya.

Tadi malam, kami sudah mencoba menjalankan tantangan ini. Saya biarkan dia mengambil buku pelajaran bahasa jawanya (kebutalan ada test harian besok paginya). Tapi sebelumnya, Jani meminta ijin ke saya untuk membaca buku cerita terlebih dahulu (saya ijinkan selama 10 menit). Saya amati, dia langsung menuju kamar saya, mengambil pashmina saya. Mencoba melilitkannya di oeher, memasangkannya ke kepala, balik lagi ke leher, pindah ke bahu dan akhirnya balik lagi untuk balikin phasminanya. 


Requestnya, baca buku cerita duku sebelum baca buku paket πŸ˜„πŸ˜„
Setelah heboh sendiri dengan pashminanya yang gak jadi dipake itu πŸ˜‚, Jani langsung mengambil buku di rak di ruang keluarga dan berdiri di depan saya, membaca sebuah cerita pilihannya. Bersuara lantang dengan intonasi yang cukup pas menurut saya. Setelah saya ingatkan bahwa waktunya 10 menit telah usai, maka tanpa drama Jani beralih memegang buku bahasa Jawanya dan mulai membaca cukup keras materi bacaan di buku paket tersebut.


Pindah posisi disamping saya, lendotan, sambil membaca materi pelajarannya. Membaca cukup keras sambil menunjuk tukisan di buku. Saya dimintanya untuk mendengarkan. Setelah selesai membaca buku paket bahasa Jawanya, Janipun meminta saya untuk mengujinya. Saat saya sampaikan, tulis aja jawabannya, dia menolak (iyaaa, Jani emang gak suka menulis, capek katanya). Bahkan di sekolah sempet mengajukan ijin ke wali kelasnya apakah dia diperbolehkan mengerjakan tes secara lisan tanpa menulis, hahahahaha πŸ˜…πŸ€£. 

Menurut saya, gaya belajar Jani itu AUDITORY, dan sepertinya dominan. Disamping dia gak suka menulis dan bete banget kalau disuruh baca tanpa sura (pelan), maka kadang saya yang harus membacakan materi-materi pelajarannya. 

Belum banyak yang bisa saya explore terkait dengan gaya belajarnya. Selama ini proses belajar yang Jani terima dari saya adalah I Know Better, I'll Teach You, masih satu arah. Dan itupun di sekolahnya metodenya masih berjalan seperti itu. Masih jauh ke tahap belajar Don''t Teach Me. I Love to Learn. 


Dua pekan ini, tugas sayalah menstimulus gaya belajarnya menjadi lebih optimal sehingga hal-hal penting yang menjadi tujuan belajar, seperti meningkatkan rasa ingin tahu, daya kreasi dan imajinasi, akhlak dan juga rasa bergairah Jani untuk dapat menemukan sesuatu, dapat tercapai.

Yuk dek ... kita mulai lagi tantangan kali ini, dari nol ya 😊.

#HariKe1
#Tantangan10hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...