Senin, 30 Oktober 2017

Emak dan Komunitas Kece (Institut Ibu Profesional (IIP) Semarang

Assalammualaikum wr wb 
Hai maks ... ketemu lagi πŸ˜ŠπŸ˜—Eh, taukan rasanya menjadi ibu, bunda, mama, mommy, mamak, emak ... apapunlah sebutannya? Pastilaaaah ...


Mulai dari proses mengandung dan melahirkan yang begitu beragam dengan segala macam keluh kesah yang menyertainya, dan dilanjut dengan kesigapan untuk begadang, menemani si baby yang masih doyan melek tengah malam. Rasa sakit bekas luka melahirkan yang belum sembuh ... tapi harus segera lincah bergerak, karena urusan domestik yang juga harus beres. Ditambah ga ada asisten rumah tangga dan pak suami dinas luar kota. Duh mak, lengkap pokokmen.
Sumber : www.acookingpotandtwistedtales.com

Meskipun sudah lebih dari 12 tahun kejadian pertama (iyaa, anak saya 3 ☺, banyak yaa ...), masih terbayang jelas buat saya, awal menjadi seorang Ibu. Dan jujur, saya masih speechless. Sebagai emak-emak baru, sejak hamil, saya sudah banyak baca buku, refrensi dan lain-lain tentang anak, pertumbuhan dan perkembangannya. Berharap, saya punya bekal yang cukup untuk dapat membesarkan dan mendidik anak.


Ternyata, seiring berjalannya waktu ... seringkali teori dan praktek itu ga sinkron. 
Teori yang sudah numpuk di kepala itu, entah kemana menguapnya saat menghadapi rewelnya si bocah. Sabar yang rasanya enteng banget waktu dibaca, kenapa jadi susah sekali dipraktekin? 
Stress? Saat-saat tertentu iyaaa ... rasanya pengen ngilang saat itu juga! Wuusszzz ...

Buah hati emak (ki-ka : mba Nayya, dek Jani, mba Danish)
Dan, di momen-momen seperti inilah, saya merasa, saya harus mencari sesuatu untuk diri saya. Iya, untuk diri saya sendiri yang sudah menjadi seorang ibu. Saya harus menyiapkan diri saya sendiri dulu, lahir dan batin bila saya ingin membesarkan dan mendidik anak-anak. Di satu titik, saya memutuskan untuk menjadi pribadi yang bertumbuh. Saya tidak ingin menjadi menjadi sosok ibu yang egois. Hanya mampu membesarkan anak tanpa saya ikut bertumbuh bersama mereka.


Maka terdamparlah saya di sini, di Institut Ibu Professional Semarang (www.iipsemarang.blogspot.co.id). Meski baru mengikuti kelas matrikulasi (saya di batch#4 dan baru lulus Oktober kemarin, yeeeeeiiiii ... πŸ˜‰πŸ˜€πŸ‘πŸ»), saya banyak belajar. Di IIP, saya lebih mengenal diri saya. Saya belajar menerima dan mencintai diri saya sendiri, pasangan dan anak-anak dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. 
Belajar memahami bahwa kehadiran saya sebagai istri dan ibu untuk anak-anak saya, pastilah ada alasan yang tepat dari Yang Maha Memiliki Hidup. 
Di sini saya juga belajar untuk menghargai sekecil apapun kelebihan yang dimiliki diri sendiri dan orang lain. Belajar berbagi dengan segala keterbatasan yang kita punya 
Bahwasanya, berbagi itu tidak selalu pada saat kita berlebihankan?. Berbagi itu, lebih ke soal rasa ingin tanpa merasa lebih.

Kelas blogging yang asyik

Di IIP Semarang, saya juga banyak belajar hal-hal baru. Ada banyak Rumah Belajar (Rumbel), yang bisa diikuti. Salah satunya rumbel Literasi Media https://id.m.wikipedia.org/wiki/Literasi_media, dimana salah satu kegiatannya, saya belajar ngeblog, yang sebelumnya ga kebayang sama sekali bakalan ngeblog. Hahaha ... emak-emak kayak saya yang ga gitu gaul dengan media sosial (iyaaaa, saya cuma punya fb doang), belajar hal-hal yang baru itu bikin semangat. Kegiatan-kegiatan di Rumbel ini, setidaknya banyak membantu kami para emak ini, untuk belajar hal-hal baru dengan cara yang sangat menyenangkan. Belajar tanpa paksaan. Dari rumbel-rumbel ini, seringkali bakat dan passion emak tergali lagi. Nah, gara-gara ngeblog ini, karena kegiatannya banyak menulis, keinginan saya suatu saat bisa bikin buku cerita anak -anak, jadi muncul lagi. Hihihi ... meski cerita karangan saya masih beredar di kalangan sangat terbatas, cuma anak-anak aja yang kayaknya sudah sangat bosan dengan cerita saya☺. Di sini (IIP), siapapun boleh menunjukkan kebisaannya. Kelebihan yang kita miliki bisa kita sharing ke teman-teman yang lain tanpa merasa kita hebat dan jadi jumawa ataupun pamrih, tapi murni untuk kebaikan bersama. 


Bertemu dengan orang-orang yang positif, berpikir dan bersikap positif, sangat mempengaruhi saya untuk melakukan hal yang sama juga. Melihat banyak teman dari luar kota yang tetap semangat untuk mengejar ilmu, membuat hati saya bergetar. Rasanya, tantangan saya soal managamen waktu antara kegiatan domestik dan publik itu, jadi alasan yang sangat remeh temeh. Gak seberapa! Gak secuilpun bisa dibandingkan.


So, di IIP ini, perjalanan masih panjang untuk terus belajar (aaaah, kelas Bunda Sayang sudah dimulai, siap-siaplah emak ini belajar lagi). Emak ini sudah membulatkan tekad untuk terus berjalan, meski masih tertatih-tatih, meski pelan dan kesandung-sandung, kadangkala pake acara mengharu biru segala loh, hehehehe ... hanya terus meyakini bahwa tidak ada usaha yang sia-sia. Terus memantapkan hati, meski tidak mudah. Memegang teguh niat untuk tetap istiqomah, menjaga amanah yang sudah dititipkan. Meski menyadari, kadangkala hasilnya belum sesuai dengan apa yang diinginkan, ga patah semangat ah ... belajar mensyukuri, apapun hasilnya. Perjuangan hingga jiwa berpisah dengan raga. 

Semangat memperbaiki diri sebagai pribadi, istri dan ibu itu memang harus diniati, agar hadir kita di muka bumi ini bernilai dan menebar manfaat.
Yuk, saling bergandengan ... berdampingan untuk saling menguatkan. 
Meski emak setrong, teteplaaaah butuh tangan-tangan dan pelukan hangat sahabat yang menguatkan dirinya untuk tetap tegar.

Bismillahirrohmannirrohiim ...

1 komentar:

  1. Kereeeennyaaa... I love IIP .. I Love mbak Indah, murid paling rajin hehe. Ada sedikit yang bisa diperbaiki, next meeting Kita bahas yaaa.. semangaaat mbak say... :)

    BalasHapus

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...