Hari ini menghabiskan waktu berdua dengan Nayya. Karena si Ayah dan dua adiknya, sudah berangkat lebih dulu ke Jakarta untuk menghadiri pesta pernikahan om mereka. Si Emak dan ABG ini, akan menyusul besok selepas pulang sekolah.
Semalam, setelah kelar packing (eh ... kelar packing malah besok paginya) saya sampaikan ke Danish untuk jaga adiknya sรจlama si emak ga ada. Pak suami juga dipesankan untuk jaga anaknya. Karena cukup sering saya ngingetin, kayaknya lebih tepat kalau saya bilang nyerewetin ya ๐๐๐, Danish bahkan bisa langsung "nyamber" apa yang mau saya sampaikan hahahaha ... "saking hafalnya bun!", responnya saat saya langsung terhenti untuk bicara
Eeerrghhh ...
Berpergian berdua dengan Nayya itu berarti makan. Sepertinya ada anaconda dalam perut anak ABG ini. Bawaannya laper melulu. Tapi memang pas jam makan siang juga sih.
Table talk saya sama Nayya siang itu, berawal dari komennya tentang harga makan siangnya. Jumlahnya Rp. 62.000,-, cukup mahal untuk kantong pelajar sepertinya. Oia, saya dan Ayahnya, menetapkan uang saku mingguan unttuk Nayya. Besarnya Rp. 50.000 setiap minggu. Uang itu untuk uang jajannya dan harus bisa diaturnya agar cukup. Melihat dari harga makanan di lingkungan sekolahnya dan daya serap Nayya yang super mengagumkan, uang Rp. 50 ribu, hanya cukup maksimal untuk 3 hari. Waktu saya tanya, gimana dia nutup kekurangan uang jajannya? Awal-awal uang jajan di rumah yang jadi korbannya wkwkwkwkw . Uang dua ribuan yang dikumpulin di box kayu, cindramata dari salah satu bank, terlihat semakin lama semakin sedikit jumlahnya, ternyata .... ๐๐.
Waktu saya bilang, kalau uang jajannya habis, gimana? Si ABG ini akhirnya bialng "Ya udah, aku tak puasa wis bun. Selain ntar siapa tau aku jadi kurusan dikit (dia emang agak gemukan dikit sih, eh banyak, tapi belum masuk kategori obes kok ๐).
"Ya, kenapa puasa tujuan puasanya jadi kabur gitu mbak?"
"Ya nggak, aku biasanya kalo pas puasa Ramadhan juga turunkan beratku?"
Hmmm ... tapi setelah lebaran hari kedua, malah naik timbangannya. Ngalah-ngalahin berat sebelum puasa pulak wkwkwkwkwk ...
"Selain puasa, barangkali ada cara lain buat menghemat uang jajan?"
"Ya, kudu bawa bekal tiap hari dengan nasi dan lauk yang banyak bun, biar aku bisa makannya nggak cuma sekali"
Hihihihi ....
"Minggu ini, jatah uang jajannya sudah habis?"
"Sudah", sambil mulutnyapun ga berhenti ngunyah.
"Terus, buat besok gimana. Bunfa sepertinya ga masak, karena siangan kitakan mau berangkat?"
"Ya, aku ga jajanlah bun"
"Kalau lapar dan kepengen jajan?"
"Gampang, gak usah keluar kelas. Jam istirahat di kelas aja, jadi biar bisa nahan gitu" sambil masukin suapan terakhir salad sayurnya, yang terlihat crunchy di mata si emak ๐.
Ya, konsekuensi seringkali saya sampaikan dan ajarkan ke anak-anak. Belajar konsekuensi berarti mereka belajar bertanggung jawab dengan semua perkataan dan perbuatannya. Mereka harus paham setiap tindakan dan perkataan mereka akan berpengaruh juga ke orang-orang sekitar meraka. Jadi, berusahalah terus untuk menjaga lisan dan perbuatan, kapanpun dan dimanapun.
#hari9
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundsayiip
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Seribu Cerita Dari Dapur
Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...
-
Single Fighter? Seringkan dengar istilah ini? Kalau menurut kamus Inggris-Indonesia https://kamuslengkap.id , single fighter artinya ada...
-
Apa yang membuat kita bahagia? Jawaban setiap orang pasti berbeda. Meski kadang memiliki jawaban yang sama, tapi pasti memiliki detail...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tengkyuuuuuu udah mampir ๐.