Mengkomunikasikan apa yang saya inginkan, sebagai emak dari si ABG ini, kadang tidak harus dengan kata-kata. Saya sering menggunakan body language, bahasa tubuh saya ke Nayya untuk dia lebih memahami, apa sih sebenarnya yang ingin saya sampaikan atau maksud saya. Kadang saya merasa, dalam perbincangan saya dan dia, bahasa tubuh saya lebih efektif.
![]() |
| Kapanpun bisa berduaan, disempatkan ngobrol |
![]() |
| Hasil tes yang ga mengecewakan ☺ |
Saya gak mau membebani dia dengan pertanyaan soal belajarnya semalam. Saya cuma bilang "Nanti pas ngerjain test, jangan lupa berdoa ya mbak. Semoga nanti dimudahkan oleh Allah". Kalau dulu, mungkin saya langsung nyerocos ngomentarin belajarnya semalam yang gak kelar karena dia keburu tidur, dan disambung dengan gimana caranya dia bisa ngerjain tes kalo dia gak belajar, apa bisa?
Duh, inget yang begini ... saya bayangin kalau saya jadi Nayya, saat semalam sudah kebablasan tidur karena capek, trus paginya dapat "semprotan" dari si emak yang nyaring benar ngomong, ngerasa ga yakin bisa mengerjakan tesnya, pastilah rasanya jadi bete luar biasa (maafin emakmu yang dulu ya mba Nay ๐ค๐).
Awal saya mencoba untuk mempercayai kemampuan anak, seperti dalam proses belajar atau diberi tanggung jawab untuk mengerjakan sesuatu, ada rasa was-was yang luar biasa akan hasilnya. Takut hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi saya sebagai orang tuanya. Tapi sekarang, meski masih dalam proses dan terus belajar, saya belajar mempercayai kemampuan mereka untuk mengatasi masalah mereka sendiri. Dan selama ini yang saya lihat, mereka mampu dan bahkan seringkali melakukan hal-hal di luar yang saya perkirakan! Hasilnya .... bagus!
Karena pada dasarnya saya sangat senang memeluk, anak-anakpun saya ajarkan bahwa kadang orang sering merasa lebih "hangat" dengan pelukan. Pelukan, sentuhan, mimik wajah, senyuman ... kadang jauh lebih bermakna daripada kata-kata yang diucapkan. Saya sudah sangat mengurangi mengucapkan kata-kata yang tidak perlu. Buat saya sebagai si emaknya ABG ini, lebih baik saya diam daripada kata-kata saya tidak bermakna, mubazir.
Saya sering memperlihatkan ke anak-anak, saat saya memeluk Ayahnya. Oh ya, untuk kasus pak suami ini, karena dia tipikal yang tidak ekpresif soal yang beginian, awal-awal seringkali terlihat kaku tapi karena sudah sering dilakukan (yeep, saya kadang lupa memberikan pelukan ke pak suami karena dia harus segera bernagkat dan saya masih asyik uplek di dapur, hahahahha), lambat laun, pagi kami kadang terasa hambar kalau belum saling memberi pelukan hangat. Dan ini seringkali jadi obat mujarab, saat saya agak bete dengan sikapnya, maka pagi itu bisa mencair. That's the power of your body language, right? Dan pelukan pertama saya untuk anak-anak adalah saat membangunkan mereka tidur. Mereka bangun dengan jauh lebih tenang, dan sayapun bisa memulai hari dengan jauh lebih bahagia (karena gak pake marah-marah dan teriak tentunya).
![]() |
| We ara One Tim Sejatinya si ABG inilah guru saya ๐ |
Pada dasarnya, saat saya ingin mengajarkan anak sesuatu, sejatinya sayalah yang sedang belajar. Seperti dengan Nayya, saya jadi belajar untuk lebih sabar, berbicara lebih halus, belajar konsisten, dan hal-hal baik lainnya yang saya upayakan bisa menjadi contoh buat dia.
#hari7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tengkyuuuuuu udah mampir ๐.