Jumat, 12 Januari 2018

Bahagia dengan Yang Tidak Disukai (Day10)



Bismillahirrohmanirrohiim ...



Hari kesepuluh.Berusaha untuk menyukai sesuatu yang jelas-jelas kita tidka suka adalah sebuah perjuangan tersendiri. Kadang, kita lebih baik menghindar atau tidak mau melakukannya sama sekali. Bisa jadi, apa yang tidak kita sukai itu, karena memang kita belum mencobanya. Mungkin sudah, tapi belum mencobanya dengan cara lain. 


Seperti yang pernah saya singgung di postingan sebelumnya, bahwa Jani, bungsu saya ini bukanlah anak yang cemerlang secara akademik, terutama untuk pelajaran matematika atau segala sesuatu yang berhubungan dengan angka. Selama yang saya amati, dia sepertinya tidak pernah tertarik dengan angka, menjumlah, mengurangi, membagi .... membuatnya berpikir lama dan membingungkannya. Dan, yuppp .... pelajaran matematika di sekolahpun nilainya pas-pasan.

Jujur ... buat saya, emaknya ini, ketidaksukaan Jani dengan pelajaran matematika, tidak masalah sama sekali. Saya sangat paham, tiap orang memiliki ketertarikan sendiri-sendiri. Tugas sayalah sebagai orang tuanya untuk bisa mengenali dan menggali  potensi-potensi terbaik miliknya.

Tetapi ... di sekolah umum, dengan sisitem pendidikan yang masih berbasis angka (bahwa angka masih menunjukkan tingkat kemampuan siswa) dan masih "mengelompokkan" beberapa pelajaran sebagai mata pelajaran utama (beranggapan bahwa mata pelajaran utama di SD adalah mata pelajaran yang di "UN" kan, yaitu matematika, bahasa Indonesia dan Ilmu Pengetahuan Alam), maka mau tidak mau, ada peraturan tidak tertulis bahwa ketiga mata pelajaran tersebut "harus" dikuasai oleh para siswa. Masalah sebenarnya. Tapi masalah ini menjadi tantangan buat saya dan Jani.

Waktu saya sampaikan ke Jani bahwa pelajaran matematika adalah salah satu pelajaran utama yang nilainya sebagai indikator untuk masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (SMP), maka ... saya memintanya untuk belajar menyukai pelajaran ini. Jangan "memusuhinya" dulu. Karena kalau sudah membentengi hati dan pikiran dengan rasa tidak suka/senang, sulit untuk memulainya dengan baik. 

"Kalau gitu, aku dicarikan guru les aja bun". 
"Guru les matematika?'', sahut saya.
"Iya. Tapi ... guru lesnya jangan galak, yang sabar juga. Nanti aku malah nggak bisa belajar kalau gurunya galak".


Kenapa bukan saya yang mengajarinya? Iyaa ... Jani tahu banget, kalau emaknya ini kadang gak sabaran untuk mengajarinya, jadi kadang lebih banyak keluar tanduknya. Emak lelah, anaknya gak mudeng-mudeng hahahahaha ...

Maka, itulah solusi terbaik saat ini. Mencoba belajar dengan orang lain. Berharap akan memberikan nuansa baru yang berbeda. Saya kontak langganan saya, pak Miftah pemilik les belajar La Thanza, untuk mencarikan tentor belajar buat Jani dengan persyaratan yang dimauin Jani, gurunya nggak boleh galak dan sabar. 

Dan malam tadi, les pertama di mulai. Sebelum les dimulai dan menunggu mbak Vina, tentornya datang, ada saja yang dilakukannya untuk menghindar. Mulai dari ingin ikut Ayahnya pergi, makan es (malam-malam coba) yang menyebabkan bajunya basah dan harus ganti lagi. Bolak balik keluar rumah, mengajak Rara, teman sebelah rumahnya, untuk menemaninya belajar (ini saya larang, karena ini hari pertama, saya ingin proses perkenalan Jani dengan tentornya, mb Vina, berjalan lebih privat) sampai di awal-awal belajar, meminta saya untuk menemaninya (ini juga saya tolak ... saya ingin dia belajar menghadapi situasi yang baru, yang mungkin tidak membuatnya nyaman), ima kali keluar masuk kamar untuk mengambil barang atau melakukan sesuatu yang remeh temeh, hahahahaha ...

Setelah melewati masa-masa transisi tadi ... setengah jam berikutnya ... saya tidak melihatnya keluar masuk kamar lagi ... saya juga mendengarnya berkomunikasi aktif dengan tentornya dan ... jam delapan setelah selesai, Jani keluar dengan wajah tersenyum dan mata berbinar.

Sekali-kali narsis ama Pohon Kebaikannya

"Ternyata gak sulit kok bun belajar matematikanya. Mba Vina juga baik, sabar ... jadi aku cepet mudeng".

Hahahaha ... syukurlah, Alhamdulillah.

Belajar dari hal ini, saya tekankan ke Jani bahwa jangan menghindar terlebih dahulu untuk hal-hal yang tidak kita sukai. Kadangkala, dibalik itu semua ada hal menarik yang kita tidak pernah tahu. Jangan kalah dulu dengan bayangan dan pikiran yang menakutkan. Selama kita mengerjakannya dengan hati bahagia, maka itulah yang kita dapati. 

Jangan menunggu bahagia untuk melakukan sesuatu menjadi baik, tapi berbahagialah melakukanya, maka semua akan baik-baik saja.

Dan Jani memilih untuk berani menghadapinya. Good girl!



#tantangan_hari_ke_10
#kuliahbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...