Bismillahirrohmanirrohiim ...
Hari ketigabelas.
Hari ini, saya belajar (lagi) sama Jani arti berbagi tanpa syarat.
Berbagi apa yang kita sukai ke orang lain itu, kedengarannya sih memang sepele, tapi coba deh lakuin ... ada rasa beraaaat dan ya itu tadi, bisa muncul syarat macam-macam dari kita sebagai pertimbangan yang berlebihan yang sebenarnya sih kalau mau jujur, gak penting banget!
Saya ingat, alm. Ayah saya pernah bilang, orang bisa berbagi dan memberi itu karena sudah merasa cukup. Arti cukup disini ternyata maknanya tidaklah secara harfiah, lebih dari itu.
Duluuuuu, saya menganggap cukup itu dalam ranah materi. Tapi ternyata tidak. Cukup lebih ke rasa. Memberi itu tidak memandang kaya atau miskin secara materi. Memberi itu kerelaan hati kita untuk melakukannya. Punya berapun kita bisa memberi, asal diri kita sudah merasa cukup. Siapa bilang punya sedikit membuat kita gak bisa memberi dan berbagi?
Jani mengingatkan saya. Meski hanya membawa satu bùtir telur balado sebagai bekal sekolahnya, dia tetap dengan sukarela untuk berbagi dengan temannya, Shafira.
"Aku nawarin Shafira buat nyicipin telur balado masakan bunda. Dia suka loh bun. Tadi juga Cindy, jadinya kepengen. Trus, ya sudah bekalnya dimakan bareng-bareng. Besok bawain bekalnya agak banyakan ya bun, siapa tau temenku ada yang mau makan bareng lagi".
![]() |
| Kata "sedikit" nya itu ... agak-agak gimana ... 😂😁 |
Ya, sesederhana itu memang. Tapi saya mensyukurinya. Jani termasuk anak yang suka memberi dan juga berbagi apa yang dimilikinya. Dan dia melakukannya dengan ringan dan happy, tentunya. That's our point for this challange, right?
#tantangan_hari_ke_13
#kuliahbunsayiip3
#gamelevel_3
#kami_bisa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.