Selasa, 16 Januari 2018

Makna Berbagi Makanan (14)

Bismillahirrohmanirrohiim ... 


 Tidak (sempurna) iman orang yang kenyang perutnya sedang tetangga sebelahnya kelaparan.” (HR al-Baihaqi). 



Hari keempatbelas.

Hadits ini mengingatkan saya akan kegemaran Jani minggu ini, membagi bekal sekolahnya ke teman-temannya. 


Memberi makan ini tindakan yang tidak sesederhana seperti yang terlihat saja.
Saya lebih memahaminya sebagai bagian dari ajaran agama yang saya anut, yaitu agama Islam, yang mengajarkan agar saya tidak bersikap individualis. Bahwa, amal ibadah itu tidaklah cukup hanya dengan ritual-ritual yang sifatnya individu. Keimanan kita haruslah juga dilengkapi dengan amal-amal sosial.
Dan apa yang dilakukan Jani, yang mungkin terlihat sepele itu, mengasah sisi sosial dan juga mengajarkannya mengimplementasikan (duh ... bahasa sederhananya apa ya?) keimanannya. Bahwa ajaran untuk berbuat baik kepada orang lain akan mendapatkan ganjaran  yang baik pula dariNya. Memberi makan orang yang kelaparan termasuk amalan yang dapat menghapus dosa-dosa, mengundang turunnya rahmat, dan menyebabkan diterimanya tobat.


Tiga pekara siapa pun yang ada padanya, kelak akan dinaungi oleh Allah di bawah arsy-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Yaitu, berwudhu pada waktu cuaca dingin, mendatangi masjid meskipun gelap, dan memberi makan orang yang kelaparan.” (HR Abu Muslim al-Ashbahani).

Beberapa waktu lalu Jani sempat protes ke saya, kenapa kegiatan kami yang dulu sering membagikan nasi bungkus setiap hari Jumat, sekarag sudah jarang dilakukan. Duh, iyaaa ... ini saya akui kesalahan saya. Saya sudah mulai jarang merutinkannya lagi. Saya sudah gak mengingatkan anak-anak untuk menyisihkan uang jajannya untuk bisa sedekah nasi bungkus. 

Dulu, setiap hari Jumat ... kami merutinkan untuk sedekah nasi bungkus. Jumlahnya tidak banyak, semampu kami pada saat itu. Kadang cuma 5 bungkus, kadang 10 sampai 20 dan dana untuk menyiapkan nasi bungkus itu, saya kumpulkan dari suami, saya dan anak-anak. Hehehehe ... Our Family Project lah ceritanya nasi bungkus ini. Tapi, sekarang mandeg ... Mandegnya berawal dari ibu tenongan (yang menjual berbagai snack dalam keranjang yang digendong dan ditawarkan dari rumah ke rumah) yang sakit cukup lama. Ibu Tenongan ini biasa mensupply nasi bungkus yang akan kami sedehkakan. Kok gak buat sendiri? Iya memang sengaja ... agar satu nasi bungkus itu banyak orang-orang di dalamnya yang terlibat ... mulai dari saya, ibu tenongan, pemilik warung, dan masih banyak lagi ya kalau diurut sampai belakang.

Aiiih ... saya kembali belajar dari Jani, diingkatkan bahwa apa yang sudah baik itu harusnya dipertahankan dan bila perlu ditingkatkan. Bukannya malah hilang tak berbekas. Dan gak perlu mencari alasan pembenaran mengapa kita tidak lagi melakukannya.

The Happiness Project milik Jani, akan berakhir tantangan untuk menjalankan dan mereportnya sebagai "Nice Home Work" emaknya. Tapi, saya dan Jani sepakat untuk terus melakukannya meski masa untuk tantangan ini sudah berakhir nantinya. 

Buat saya ... ini seperti memulai kembali beberapa project yang sebelumnya sudah pernah kami lakukan. Mengingatkan kembali hal-hal baik yang kami tinggalkan. Meski harus memulainya lagi dari nol, kami siap kok.


#tantangan_hari_ke_14
#kuliahbunsayiip3
#game_level_3
#kami_bisa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...