Kamis, 25 Oktober 2018

Yuk Curhat


Saya bukan tipikal emak-emak yang gampang curhat. Entah ya ... kayaknya buat saya, curhat itu harus pas momennya. Waktu, tempat, orangnya ... harus klik dulu. Ketiganya itukan faktor utama untuk si curhat ini jadi, enak apa nggaknya. Waktu dan tempatnya oke ... lha yang diajak curhat sukanya ngember, duh ... jadi maleskan? Atau orangnya oke, timingnya pas ... tempatnya berisiiiikkk, jadi bete juga deh curhatnya. Jadi, curhat buat saya, emang nggak bisa sering-seringkan? Karena tiga faktor utama tadi, jarang banget bisa klop, hehehe ...


"Lu sih enak, hidupmu lempeng-lempeng aja, nggak ada masalah". 

Kadang teman-teman saya suka bilang begini ke saya. Benarkah? Benarkah hidup saya baik-baik saja? Benarkah saya nggak ada masalah? Aah, rasanya sangat nggak mungkin ya, hidup kita nggak ada masalah. Mungkin mereka nggak tahu saja, karena memang saya tidak memberitahukannya.  Mereka belum tau saja kalau saya paling paling jago pasang tampang "hey, I'm fine. I'm ok", wkwkkwk. Mereka belum tahu saja kalau saya tuh senengnya ketawa. Seneng ketawa, susah ketawa, sedih lebih banyak ketawa daripada merananya, bahagia apalagi ... pastilah saya ketawa. Nah, susahkan tolak ukurnya? Tapi, tidak curhat bukan berarti bebas masalahkan? 

Pic from Google
Saya nggak pernah (bisa) menyalahkan emak-emak kayak saya yang hobinya curhat. Nggak bisa dan nggak fair sama sekali. Apa sebab? Karena sungguh sodar-sodara, menjadi seorang perempuan dengan fungsi sebagai istri, ibu sekaligus juga pekerja itu, lama-lama otak dan hidup bisa error kalau tidak ada pelampiasannya. Apalagi yang statusnya single fighter, huaaaaa ... beban berasa tiga kali lipat beratnya.

Kalau kata pak Suami, perempuan kalau sudah curhat itu jadinya panjang. Melebar kemana-mana, nggak fokus. Yang dengerin jadi bingung. Awal curhat soal tetangga depan rumah yang jarang senyum, eh melebarnya sampe ke parkir di sekolah anak-anak yang bikin senewen. Apa coba hubungannya. Hahahaha ... belum tau ya, kalau awal cerita sambel pete endingnya bisa ngomongin si Jan Ethes yang nggemesin. Ditanggapin salah ga ditanggapin lebih salah lagi.

Wahai kalian para Bapak, Ayah, Papi, Abi, whateverlah ... istri-istrimu itu sungguh butuh penyeimbang dalam hidupnya yang super dashyat itu. Bahagialah bila mereka masih mau ngoceh seharian. Anggaplah ngoceh itu sebagai curhatnya. Kami ini butuh mengeluarkan semburan 20 ribu kata ... kalau mau mental kami sehat. Tak sanggup mendengarnya, buatkanlah teh manis panas (atau es teh?) maka secepat itu ocehan panjang kami jadi senyuman paling manis.

Pic from Google
Sebenarnya, curhat itu sejatinya memang menyehatkan mental Baca deh lengkapanya di sini. Syaratnya cuma butuh teman  yang tepat, yang ngeklik. Kehadiran orang yang tepat ini, terasa sekali bisa membantu kita untuk terhindar dari stress berkepanjangan. Kesedian orang lain untuk mendengarkan apa yang kita rasakan dan sekaligus mampu memberikan dukungan, itu adalah anugrah. Nggak punya temen atau susah cerita ke orang lain (kayak saya), c'mon mak, tenang aja ... kita bisa ketuk pintu langit. Curhat sama yang empunya hidup itu, jamin bikin hati tenaang ga pake deg-degan bakalan bocor kemana-mana. 
"Jangan cerita ke siapa-siapa ya". 
Jrreennnggg .....!!! Besoknya teman-teman searisan tahu semua masalah kita, duh. Ah sudahlah, saat ini saya berusaha untuk tidak menyalahkan para mamak yang hobi curhat ini. Saya tiďak mau menjudge mereka.

Kadang sosial media saya penuh juga dengan curhatan para mamak, ya ... dinikmati sajalah. Asal curhatnya masih di koridor yang benar (nggak juga tiba-tiba jadi ahli politik atau agama, atau apalah apalah yang malah bikin masalah baru), saya masih oke-oke saja menikmatinya. 

Pic from Google
Saya sendiri sebenarnya punya juga sih teman curhat yang jarang dicurhati. Bukan kenapa-kenapa, kadang saya merasa bahwa masalah saya, sayalah yang paling tahu penyelesaiannya. Kadang saya hanya butuh untuk didengar dan itu cukup. Nah, susahnya ... kadang si teman curhat ini berubah menjadi hakim dengan segala penilaian-penilaian pribadinya. Kita sering kebablasan dengan peran kita. Harusnya kita jadi pendengar yang baik, bukan sebagai hakim untuk masalah yang kita dengar sepihak. Tidak gampang memang mendengarkan cerita dan keluhan orang tanpa dibarengi dengan keinginan untuk berkomentar. Menahan diri itu susah jendral!

Makanya kalau ada teman yang bilang, "mbak ... aku mau curhat", deng deng deng ... saya langsung deg-degan. Karena harus berusaha menjaga amanah mereka dan bersikap yang menyenangkan sebgai teman mereka. Terpaksa? Tentu tidak. Ini adalah cara saya menghargai kepercayaan yang mereka berikan ke saya. Saya akan berusaha menahan diri untuk tidak banyak komentar dan juga menjadi pendengar yang baik. Membiarkan mereka lega mengeluarkan unge-unegnya. Dan you know ... pada dasarnya saya memang hobi mendengarkan cerita, hehehehe ....


#wanita&pena
#10dayschallange
#RumbelLM
#Day2



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...