Teramat banyak hal-hal indah dan hebat untuk dikenang. Mulut ini tak berhenti untuk menceritakannya berkali-kali ke anak-anakku. Betapa, Bunda mereka punya kenangan yang luar biasa saat seusia mereka. Bahkan seringkali mereka bertanya tak percaya, apakah benar dulu begitu? Apakah benar bermain itu, bisa seasyik itu? Apakah benar dulu bisa senikmat itu berteman?
![]() |
| Pic from google |
Keluargaku tinggal di komplek perumahan PERTAMINA (Alm Ayah saya adalah pegawai PERTAMINA) pada waktu itu, sungguh sangatlah beragam. Mulai dari ras, agama dan juga status sosial. Semua tidak pernah menjadi masalah besar. Yang saya rasakan, betapa toleransi menjaga hidup kami dengan damai, rukun dan bahagia.
Aku ingat, sebelah rumah kami dulu adalah Om Sitanggang, orang Batak yang beragama Kristen denga tiga anaknya yang hampir sebaya dengan saya. Sebulan dua kali rumahnya dipakai untuk acara sembahyangan. Ibu saya, selalu membantu memasak makanan dan kue yang nantinya akan disajikan untuk para jemaat yang ikut sembahyangan di rumah Om Sitanggang. Begitupun saat keluarga kami megadakan pengajian. Om dan Tante Sitanggang akan dengan sigap membantu keluarga kami . Si Om akan sigap membantu almarhum Ayah memasang tenda dan si Tante akan membantu memasak makanan dan kue bersama Ibu di dapur. Dua Anjing meraka akan dikurung lebih awal di kandang belakang, agar tidak ribut sehingga pengajian di tempat kami berjalan lancar tanpa gangguan. Dan itu tanpa diminta. Biasanya Om Tanggang (saya biasanya memanggil dengan sebutan itu) akan segera memasukkan dua anjingnya ke kandang yang di belakang rumahnya (iya, beliau punya dua kandang, di belakang dan samping rumah) setelah adzan Ashar.
"Om Tanggang ... aku takut anjingnya, mau lewat gak berani. Diikat dulu Om, anjingnya. Aku mau ngaji".
Itu request yang sering aku lontarkan sambil teriak-teriak khas anak kecil setiap jam empat sore untuk berangkat TPQ. Pulang dari TPQ, si Om ini, berita terakhir yang saya tahu, beliau sekarang menjadi seorang Pendeta, selalu menyempatkan bertanya, " Sudah sampe mana kau ngajinya?. Jangan malas kau ngaji, biar mamak bapak kau punya anak baik". It's nice, right?
Itu request yang sering aku lontarkan sambil teriak-teriak khas anak kecil setiap jam empat sore untuk berangkat TPQ. Pulang dari TPQ, si Om ini, berita terakhir yang saya tahu, beliau sekarang menjadi seorang Pendeta, selalu menyempatkan bertanya, " Sudah sampe mana kau ngajinya?. Jangan malas kau ngaji, biar mamak bapak kau punya anak baik". It's nice, right?
Sekarang ... jujur kadang saya merasa khawatir. Saat ini semua orang mudah tersinggung. Semua orang merasa paling benar dengan pilihan agamanya dan dengan mudahnya meyalahkan orang lain yang berbeda dengan yang diinginkan. Semua orang merasa paling berhak menentukan dan menghakimi perbuatan orang lain salah. Sedih? Lebih tepatnya saya merasa sangat miris dan marah.
Pernah sekali saya merasa speechless, sewaktu Nayya ingin bisa masuk ke mesin waktu dan ada di jaman saya saat seusianya. Katanya, jaman saya kecil jauh lebih seru dibanding jaman dia sekarang ini. Jaman dimana bermain diluar adalah aktivitas sehari-hari. Pulang sekolah jalan kaki ambil rute terjauh. Usil gangguin anjing dan lari sekencang mungkin saat dikejar. Hari Minggu, bersama beberapa orang temen sekomplek, pagi-pagi sudah menenteng bekal, memasukkannya dalam ransel dan kami asyik main, menelurusi ladang-ladang milik para penduduk yang tinggal jauh dari komplek. Pulang dari berpetualang ala anak bau kencur ini, sore hari dengan wajah hitam merah kepanasan, dan disemprot sama omelan dari ibu yang teriakannya lebih kenceng dari stereo lagu dangut Orkes Melayu.
Sekarang?
Boro-boro mau main, yang ada sepulang sekolah mereka sudah lelah untuk keluar kamar. Seabarek tugas sekolah dan juga kegiatan ekskul yang menguras waktu, mencuri masa senang-senang mereka. Mereka sudah loyo duluan untuk bersenang-senang di luar! Itupun ditambah dengan hal-hal yang membuat saya, mamaknya, menjadi paranoid melepas mereka bermain di luar. Too dangerous. Bahkan bermain di dalam rumahpun dengan fasilitas gadget menjadi perangkap bahaya besar lainnya lagi, maka lengkaplah sudah aktivitas mereka menjadi sangat terkukung oleh waktu dan dinding-dinding maya. Anak-anak sekarang jarang benar-benar bergaul. Mereka mudah sekali menjadi tersinggung hanya karena temannya tidak setuju dengan pemikirannya.
Mereka bisa pergi jauh sampai ke ujung dunia, tapi tak merasakan apa esensi dari berpergian itu sendiri. Tak merasakan langsung kucuran keringat karena berjalan jauh. Tak merasakan sengatan sinar matahari yang kadang membuat kulit perih. Tak pula mereka merasakan langsung, angin sepoi-sepoi yang bagaikan sapaan surga saat istirahat sebentar di bawah pohon. Ah, priceless!
Keadaan memang tidak sama. Jaman berubah dan setiap generasi membawa peran peradabannya sendiri. Nggak apple to apple rasanya kalau saya membandingkan masa kecil saya dengan masa kecil mereka saat ini. Tantangannya sudah jauh berubah. Mereka hidup saat ini, maka tantangan-tantangan yang mereka hadapi, adalah hal-hal saat sekarang. Mungkin mereka memang tidak bermain dengan kardus bekas dan menggeretnya sekencang mungkin di jalanan aspal hingga pantat panas, dan bersorak riang gembira melihat ada yang terpental dari gerombolan temannya yang berusaha sekeras mungkin untuk bisa tetap berada di atas kardus yang ditarik kencang. Di jalanan mana mereka bisa melakukannya? Mungkin juga mereka sudah nggak banyak yang suka naik dan manjat-manjat pohon (lha jarang ada yang punya pohon besar yang asyik untuk dipanjat bareng-bareng dan juga karena semua tanaman hampir rata-rata ditanam di pot, dicangkok. gimana mau manjat?).
![]() |
| Add caption |
Sekarang?
Boro-boro mau main, yang ada sepulang sekolah mereka sudah lelah untuk keluar kamar. Seabarek tugas sekolah dan juga kegiatan ekskul yang menguras waktu, mencuri masa senang-senang mereka. Mereka sudah loyo duluan untuk bersenang-senang di luar! Itupun ditambah dengan hal-hal yang membuat saya, mamaknya, menjadi paranoid melepas mereka bermain di luar. Too dangerous. Bahkan bermain di dalam rumahpun dengan fasilitas gadget menjadi perangkap bahaya besar lainnya lagi, maka lengkaplah sudah aktivitas mereka menjadi sangat terkukung oleh waktu dan dinding-dinding maya. Anak-anak sekarang jarang benar-benar bergaul. Mereka mudah sekali menjadi tersinggung hanya karena temannya tidak setuju dengan pemikirannya.
Mereka bisa pergi jauh sampai ke ujung dunia, tapi tak merasakan apa esensi dari berpergian itu sendiri. Tak merasakan langsung kucuran keringat karena berjalan jauh. Tak merasakan sengatan sinar matahari yang kadang membuat kulit perih. Tak pula mereka merasakan langsung, angin sepoi-sepoi yang bagaikan sapaan surga saat istirahat sebentar di bawah pohon. Ah, priceless!
![]() |
| Pic from google |
Menurut saya, tugas orang tua jaman sekarang memang cukup berat sehubungan dengan menghadirkan dan menyiapkan masa-masa bermain untuk anak-anak. Karena pilihannya hanya dua. Orang tua harus kreatif sehingga bisa menciptakan susana bermain yang oke untuk anak, atau anak akan oke bermain dengan GADGET! Apapun caranya, buat saya menciptakan dan menghadirkan masa kecil yang bahagia buat anak itu adalah MUTLAK PERLU. Yes, apapun caranya. Let's play.
#wanita&pena
#10dayschallange
#10dayschallange
#RumbelILM
#day1
#masakecilku
#masakecilku




Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.