Kamis, 04 Januari 2018

Tertular Virus Kebaikan Jani (Day2)


Bismillahirrohmannirrohiim ...
Hari kedua.
Awal, melaksanakan tantangan ini, saya berusaha untuk fokus kepada apa yang saya pahami tentang materi di tantangan ini. Berusaha sebaik yang saya bisa, menjawab "mau" dan juga menerapkannya secara customized ke Jani.  Karena saya meyakini, tiap anak dan juga keluarga punya nilai sendiri-sendiri.


Karena Jani sudah mampu untuk diajak ngobrol dan berdiskusi tentang apa yang akan kami capai bersama ditantangan ini, maka tugas saya sebenarnya tidaklah sulit. Lebih banyak mengingatkannya untuk tidak lupa melakukan apa yang sudah diputuskan bersama. Lebih tepatnya fungsi saya, lebih ngepas adalah sebagai observer deh.

Kemarin pagi, setelah semalam menyelesaikan tantangan pertama, sebelum berangkat sekolah, saya ingatkan Jani bahwa jangan lupa untuk melakukan kebaikan yang menyenangkannya. Iya ... saya memang menekankan kepadanya untuk tetap happy saat melakukan kebaikan-kebaikannya, agar dia tidak merasa terbebani dan menjadi penguat yang positif.

Shafira dan Jani, duo sahabat
Hari kedua ini, saya melihat  Jani masih antusias melakukannya. Sewaktu saya menjemputnya pulang sekolah, dia minta saya untuk pulang bareng dengan mb Danish (mereka satu sekolah tapi dengan jam pulang yang berbeda), karena dia ingin menemani temannya lebih dulu sampai jemputannya temannya datang.
"Kasihan Bun ... kalau aku pulang sekarang, nanti Shafira nunggu sendirian. Kalau ada apa-apa, gimana hayo?". Lha, manalah emakmu ini ngerti Nak 😆😄. Terlalu berlebihankah? Aaah ... saya melihatnya lebih ke rasa pedulinya Jani. Dan saya gak mau "mematikan" perasaan pedulinya, meski terlihat sangat sepele.

Buat emaknya sih, gak masalah ... malah kebenaran, gak bolak balik jemputin hahahaha. Penting bangetkan ini? Hanya bisa dijawab oleh emak-emak yang merangkap sebagai tukang ojek buat anak-anaknya 😎🤣.

Sewaktu menunggu di sekolah ... setiap siang, setelah bubaran sekolah, selain kelas 6 yang masih extra pelajaran, biasanya suka datang pemulung perempuan yang memunguti sampah-sampah plastik bekas minuman di halaman sekolah. Hampir tiap hari saya melihat ibu tersebut.

Dan tiba-tiba Jani, menghampiri saya ...
"Uang jajanku masih sisa ... boleh kasih ke ibunya yang lagi mungutin sampah?"
"Boleh donk. Sisa uang adek, berapa?"
"Nih ... lima ribu".
"Oh siiiip. Boleh Bunda tambahin uangnya?"
Dia menggangguk cepat. Diambil uang yang saya keluarin dari dompet dan dia mengajak temennya, Shafira untuk memberikannya ke ibu pemulung tersebut.


Perbuatan baik Jani hari ini, menggerakkan saya untuk ikut memberikan juga sedikit uang ke ibu pemulung itu. Diapun, mengajak temennya untuk melakukan perbuatan baik itu bersama. Semoga perbuatannya memberikan inspirasi untuk temennya. Perbuatan baik itu menular ... dan dengan sangat cepat, sudah menulari saya. Dan itu menyenangkan sekaligus melegakan hati.

Pohon Kebaikan, yang daunnya mulai bertambah 😍

Inilah yang sebenarnya nya menjadi poin penting bagi saya saat membuat happiness projectnya Jani. Kebaikan yang menular, yang bisa membuat banyak orang bahagia. That what Life for, right? It's countless.


#TantanganHariKe2
#KelasBunSayIIP3
#GameLevel3
#KamiBisa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...