Saya bukan tipikal perempuan romantis. Bahkan cenderung tanpa basa basi. Mantan pacar (iya ... si mantan sudah jadi suami saya), paham banget soal ini. Justru dia yang cenderung lebih romantis dibanding saya. Tapi romantisnya sebatas jaman pacaran doank sih, setelah menikah ... halaaghh, sama saja sama saya, nggak pake basa-basi dan super jarang bicara dengan kata-kata yang bikin jantung saya gedebak-gedibuk, yang bisa 11 12 seperti Milea rasakan, saat baca surat dari Dilan (lha?). Apapun itu, alhamdulillah ... pokoknya. Yang anehnya, saya malah merasa gagu dan risih, tapi juga senang sebenarnya, kalau dapat perlakuan romantis dari suami (suami saya ya, bukan suami tetangga, NOTED!!). Piye? Gimana sih maunya saya? Serba salahkan?. Ada rasa aneh yang senang saja buat dinikmati. Guilty pleasure banget judulnya wkwkwkwk...
Jadi, karena kita memang berdua bukan tipikal yang romantis, moment yang mainstream kayak Valentine, ya ... lewat begitu saja. Tidak pernah ada perlakuan khusus, kado istmewa dan boro-boro deh candle light dinner. Ya, biasa saja menjalaninya seperti hari dan tanggal-tanggal yang lain. Tidak pernah merayakannya tapi saya juga nggak nyinyir (dan tidak berniat sedikitpun untuk nyinyir) buat orang lain yang mau merayakannya. It's just celebrate ... ya silahkan saja yang mau merayakannya dengan cara masing-masing. Yang penting kalau mau kasih kado, jangan hutang. Dah, gitu aja.
Terus, kalau dua-duanya tidak romantis, memang enak? Enak ajalah ... wong buktinya saya dan suami masih saja betah berdua selama 14 tahun ini (dan berdoa untuk seterusnya, aamiin๐). Tapi jujur, emang lebih banyak garingnya sih, hahahaha ... kayak ada kurang manis-manisnya gitu. Kadang sesekali mengkhayal tiba-tiba suami kayak oppa oppa Korea yang co cuiiitttt itu (hadeeeh, di rumah ini ada dua ABG yang demam Korea, jadi si emak dicekokin ama oppa oppa Korea yang saya bilang, kok mukanya mirip semua sih? Dan cantik-cantik! Not ganteng mak ... cantik. Duh ... emak mulai mumet). Mikirnya jadi geli sendiri. Membayangin wajah suami berubah menjadi oppa oppa Korea, saya kok ngakak ya? Jadinya, kok gantengan saya?
Memasuki usia pernikahan yang keempat belas tahun (all right ... emang belum terlalu lama, tapi lumayan jugalah ini dibanding yang baru setahun dua tahun nikah, ya kan? Ya iyalaaaaah ...), saya dan suami semakin memahami diri kami masing-masing, belum ke tahap selesai, tapi sudah jauh lebih baik. Eh, usia pernikahan ini ditambah usia 'pacaran' saya selama delapan tahun ya (kapan-kapan saya cerita deh, kenapa bisa pacaran selama itu. Hmmmm ... kenapa saya jadi pede ada yang butuh cerita ini ya?), jadi hampir seperempat abad saya mengenalnya. Selama itupun saya kadang masih terkaget-kaget dengan hal-hal kecil yang kadang muncul dari diri pasangan dan itu baru saya ketahui. Suami saya pasti merasakan hal yang sama jugakan? Nggak mungkinlah cuma saya sendir yang mengalaminya. Dulu, saya tidur ngga pernah ngorok, sekarang, kata suami, saya kalau tidur kadang juga ngorok (tapi ini masih saya bantah dengan keras. Nggak percaya saya, masa siiiihhhhh? Sepertinya ini dalam rangka menjatuhkan kredibilitas saya di depan anak-anak)
Sekedar buat tahu aja Mak, kadangkala sikap pasangan dan kita terhadap sesuatu itu berubah. Yang dulunya BIG NO, lha kok sekarang bisa memahami. Kenapa bisa? Iya ini bisa banget dan sering terjadi dengan kami berdua. Perubahan ini seiring dengan perubahan mindset kami dan juga pengalaman-pengalaman yang kami lalui (Frame of Reference (FoR) dan Frame of Expierince (FoE) kami sudah "terinstal"), maka munculah perubahan sikap. Dulu saya suka latah juga ikutan panas dan pengen marah saja kalau ada orang yang menjudge dan 'nyerocos' nggak jelas terhadap sesuatu atau berbuat dan bertindak konyol. Meski kenyataannya memang benar, tapi saya belajar menahan diri. Setidaknya memberikan saya waktu untuk berpikir, tidak terpancing dan ikut-ikutan. Begitupun dengan pasangan. Saya lebih memilih untuk menahan dan menenangkan diri dulu, agar apa yang nantinya saya lakukan benar-benar berdasarkan pertimbangan akal dan hati yang sehat. Saya suka miris, melihat berita-berita tentang suami dan istri yang berpisah dan masing-masing saling menjelekkan. Bukan sok bijak, jauh dari bijaklah saya tapi ... c'mmon mak ... bagaimanapun jeleknya pasangan kita dulu, cukuplah kita dan Allah yang tahu. Ada banyak perasaan yang akan tersakiti, anak-anak, keluarga dari pasangan, bahkan ... kalau mau jujur, kitapun tersakiti dengan berbicara kejelekkan pasangan.
Duh, amit-amit ... jangan doain saya mengalaminya dong. Tapi kan, masa kita ngga bisa mengambil pelajaran dari kasus orang lain? Masa kita harus "kejeduk" sendiri untuk merasakan sakitnyakepala membentur dinding? Situ mau ngerasain mati dulu biar tahu rasanya mati? Nggak kaaan? Saya mah milih belajar dari kasus orang lain. Diberi akal dan rasa sama yang nggawe urip, ya saya daya gunakan untuk mengolah dan menjadikannya pelajaran buat saya. Hasilnya, mungkin tidak sempurna atau terbaik, tapi setidaknya saya sudah memiliki kesiapan mental dan langkah-langkah antisipasi jika saya dan pasangan mengalami masalah yang hampir sama. Menikahkan tidak hanya maslaah bobok dan sayang-sayangan doang, tapi juga butuh banyak strategi buat menjalaninya. Dan tiap pasangan pasti memiliki strategi yang berbeda-beda. Please Mak, jangan liat rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau, bisa jadi itu rumput sintesis. Lebih baik, urus rumput sendiri, rawat, sirami, biar tumbuh lebih subur dan lebih hijau.
Mengharapkan saya dan suami bersikap romantis untuk mengungkapkan rasa sayang kami, seperti peribahasa Jauh Panggang Dari Api, alias agak mustahil. Bukan karena ogah dibilang lebay, tapi saya melihat dan menyadari, cinta dan sayang kami sudah berubah. Iya, berubah. Ia bertumbuh bersama kami dalam perjalanan hidup yang roller coaster banget. Permen Nano Nano pun, kalah rame rasanya. Perjalanan cinta kami kadang diwarnai dengan teriakan kegembiraan, teriakan kecemasan dan ketakutan dan juga teriakan kelegaan. It's colourfull, indeed.
Saya menemukan makna lain dari sekedar menahan rindu ingin bertemu. Rindu itu sudah berubah menjadi kekhawatiran akan keselematannya yang belum sampai rumah, saat waktu yang dijanjikan terlewati. Cemburu itu berubah menjadi rasa memiliki tidak hanya untuk diri sendiri tapi untuk hadirnya dia di tengah kami, istri dan anak-anaknya. Sayang inipun berubah menjadi rasa untuk bisa memberikan yang terbaik kepadanya, tanpa berharap rasa ini dibalas, lillahi ta'ala ... hanya karena Allah. Kadang, hidup yang kami jalani, seringkali bersebrangan arah. Masing-masing meyakini bahwa pilihannyalah yang benar. Apakah itu salah? Tidak ... biarkanlah. Kadang ego kami masih butuh tempat untuk diakui. Ada saatnya kami meregangkan genggaman tangan, karena hati tak sejalan. Tapi, kami kembali lagi dengan dekapan yang lebih erat dan pelukan yang lebih hangat. Karena kami yakin hanya dengan kembali ke masing-masing, kami bisa menjalaninya bersama. That's our love. Sebentar-sebentar .... kok saya pengen mewek ya .... *tisu mana tisu
Iya, cinta saya bertumbuh begitu luasnya. Dan itu masih berjalan hingga sekarang. Dulu saya mencintai dirinya sendiri, sekarang rasa cinta ini meluas ke anak-anak kami, kedua keluarga besar kami, sahabat-sahabat kami, juga ke hal-hal kecil yang ada di sekitar kami yang kadang kami abaikan sebelumnya. Cinta saya berubah bentuk. Ia berubah menjadi sebuah perasaan tulus akan rasa syukur. Mensyukuri apapun yang saya dapatkan dalam hidup. Kegembiraan, kesedihan, kesusahan, kesuksesan, kegagalan ... apapun itu, you name it. Mensykuri hal-hal sederhana yang dilakukannya dengan penuh cinta. Membelikan lauk saat saya hanya sempat masak nasi. Mengijinkan saya untuk bermales-malesan di hari Minggu, tidak pernah melarang saya untuk berkegiatan di luar rumah, bersikap diam saat saya ngomel sepanjang hari, selalu rajin membereskan meja kerja saya yang berantakannya ngalahin kapal pecah, ya ya ya ... saya tahu, itu cara dia mencintai saya ๐.
Bersyukur adalah cara saya untuk terus menumbuhkan rasa cinta. Entahlah kalau kalian. Mensyukuri hal-hal sederhana yang dilakukannya dengan cinta. Saya hanya ingin, rasa cinta yang sudah berubah bentuk ini, bisa memberikan banyak rasa ke orang lain, tidak hanya ke diri saya sendiri. Kalau dulu saya adalah Milea yang bergetar hebat dan berbunga-bunga saat Dilan menghujamkan kata-kata manisnya, saat ini ... saya adalah emak-emak yang rasanya sudah paling bahagia sedunia saat mendapatkan pijatan dikala badan ini terasa lelah.
![]() |
| Bukan Dilan apalagi Milea. Dijepret ga sengaja sama si mbarep, sekitar dua tahunan yang lalu. Jadi ... ya nggak usah baper ๐๐ |
*Dilan ... yang berat itu bukan rindu, tapi bobot! Oke, sip!
(emak mature yang kelebihan kg tubuh)
Semarang, 25 Februari 2018
#GebyarLiterasiMediaFebruari2018
#IbuProfesionalSemarangBelajarNulis
#RumbelLiterasiMedia




so sweet mbak 8+14=22 tahun ya bersama orang yang sama. saya nunggu kisah 8 tahunnya mbak, kalau berkenan. hehehe
BalasHapusWah, dikumpulin dulu nih mbak pesertanya wkwkwkwk ... jangan-jangan malah entar jadinya eneg
HapusSukaaaa...kapan dibikin pileknya Maak๐๐๐
BalasHapusKapan kapaaaaaaaan ciiin ๐
Hapus