Jumat, 23 Februari 2018

Menulis Keterpaksaan Sebuah Kebaikan Hidup

Menulis itu susah ... kudu dapat "mood"nya baru deh bisa ngalir tulisannya. Kudu juga banyak refrensi, agar tulisan jadi renyah kayak kacang goreng tetangga sebelah rumah yang baunya saat digoreng, duh ... sungguh menggoda. Kudu juga menguasai banyak kosa kata, biar tulisannya nggak terkesan basa-basi. Kudu banyak ide, biar orang lain tidak bosan untuk membacanya. Kudu berwawasan luas, biar tulisannya bisa jadi asyik untuk dinikmati. Kudu netral tulisannya, biar orang lain tidak merasa terpojokkan. Kudu punya pendirian, agar pembaca tau, kita bukan tipikal yang mencla mencle. Duh ... sederet kudu itu, bikin saya sudah mengekeret kayak kerupuk kesiram air. Memble duluan.



Terus ... kalau sekarang saya nekat untuk menulis, dengan segala keterbatasan dan fakir ilmu ini, apa sih yang membuat saya tetap "ngotot' untuk maju grak? Sederet "KUDU"  versi saya yang neyeremin itu, masa sih nggak bikin saya keder? Hahaha ... kedernya sih tetap, tapi ini adalah sebuah "keterpaksaan". Saya merasa ada di satu titik dimana saya butuh untuk menulis. Iya, saya butuh. Bukan karena desakan kebutuhan ekonomi atau eksistensi diri atau apalah-apalah ... tapi lebih ke kebutuhan "memperkaya" diri. Issshhh ... yang ini alasannya emang personal banget. Jadi, yep ... saat ini saya butuh menulis.

Saya selalu suka membaca tulisan yang ringan namun penuh dengan makna. Dulu ... jaman masih berlangganan majalah Femina, saya selalu suka dengan rubrik GADO-GADO. Tulisan ringan yang pendek tentang hal-hal sederhana yang dialami oleh penulis, yang mampu membuat saya selalu tersenyum dan selalu berhasil membius saya. Kadangkala, topik-topik yang diangkat di rubrik GADO-GADO itu juga hal-hal yang "berat", tapi selalu saja penyajiannya dalam bentuk yang sangat ringan. Bahkan terkesan "konyol". Bayangan saya, para penulis di rubrik itu adalah sekumpulan orang-orang dewasa yang hebat. Mereka mampu "mentertawakan" masalah-masalah pelik yang mereka hadapi dengan begitu ringannya. Saya kagum dengan kedewasaan berpikir mereka. Memilih kalimat dan merangkainya menjadi sebuah tulisan yang penuh maknanya. Mereka mampu melihatnya dari sisi yang berbeda. Amazed me, indeed!



Dari situ, saya sering berkhayal ... suatu hari kelak, saya bisa membuat tulisan yang "selevel" itu. Membuat orang lain merasa senang membacanya dan merasa tidak digurui. Buat saya, ini nggak gampang dan bukan perkara sepele. Tantangan sih buat saya bisa menghasilkan tulisan yang ringan "easy reading" tapi, punya makna yang dalam. Soalnya, baru juga secuil waktu belajar tentang tulis menulis saja, rasanya ... saya sudah mulai sok-sokan pengen nunjukkin ke orang banyak tentang yang saya tahu, yang pada akhirnya, lebih banyak saya nikmati sendiri hahahhaa ... maafkan ya. . Meski prestasi terbesar saya di bidang tulis menulis ini sudah terlewati berpuluh-puluh tahun yang lalu (duh .... please, jangan pulak dihitung umur saya ya?), yang 'cuma" juara mengarang di jaman SD dan SMP dulu, seenggaknya menjadi modal, meski hampir kadaluarsa. Teringat ... betapa saya senang sekali pada waktu pelajaran Bahasa Indonesia, dimana tugasnya disuruh membuat karangan 1 halaman, saya dengan senang hati akan membuatnya hingga 3 halaman, hahahaha ... Ide mengalir begitu saja, tanpa hambatan, mulus dan lancar kayak jalan tol. Dan, tau nggak sih ... waktu saya membayangi suasana saat itu, rasa senangnya masih mampu saya ingat, meski samar-samar ada bagian yang hilang.

Berawal dari itu semua, saya mulai berani untuk mencoba menulis lagi. Saya ingin merasakan rasa bahagia yang sama, yang dulu pernah saya rasakan jaman SD dan SMP dulu. Mungkinkah? Mengapa tidak? Kita tidak pernah tahukan kalau kita tidak mencobanya? Sensasinya mungkin berbeda tapi esensinya sama. Memilih rumbel literasi media di IP Semarang, memaksa saya mau tidak mau untuk dekat dengan dunia tulis menulis. Memulai semuanya dari nol. Kalau dipikir-pikir, males rasanya karena otak ini sepertinya sudah penuh dengan hal lain. Sudah mulai melambat daya serapnya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚. Ditambah dengan hal baru yang saya harus belajar dan membutuhkan waktu untuk kosentrasi, duh ... sudah terpikir malasnya melakukan semua itu. Dengan kondisi saya yang seperti sekarang ini, status yang 100 % berubah, segala pikiran, beban, tanggung jawab yang melekat ... rasanya memang bukan perkara mudah untuk kembali lagi belajar, memulai dari nol. Yes, I need mood booster!. 

Karena pada dasarnya saya adalah tipe orang yang cukup pemilih untuk mengobrol sama orang lain, dan seringkali pikiran saya agak berbeda dengan kebanyakan orang, jadi ... menulis merupakan salah satu solusi yang saya pilih. Menulis apa yang saya rasakan, pikirkan dan yakini. Dalam menulis, saya memiliki kebebasan, meski pada kenyataannya, tetap ada hal-hal yang menjadi pertimbangan.. Menulis juga mampu meringankan dan mematangkan emosi saya. Menulis memberikan waktu buat saya untuk memahami perspektif orang lain dan diri kita dari masalah yang dihadapi. Membaca ulang lagi tulisan, mampu membuat saya melihat perspektif yang berbeda dari yang dulu mungkin saya yakini. Membuat saya punya kontrol untuk melakukan A atau B, karena "keceplosan menulis" jauh lebih jarang terjadi daripada "keceplosan berbicara". Iya betul, ini di luar konteks, berita hoax dan SARA ya ... dan mereka-mereka yang memang hobi "keceplosan nulis", hehehehe ...

Saya juga sangat suka dengan tulisan yang mampu membawa saya berada di dunia yang berbeda. Tha's why ... saya cinta banget dengan J.K Rowling dengan serial Harry Potter-nya atau Dee (Dewi Lestari) dengan seri keren Supernova-nya. Meski tidak semua karya Dee saya sukai, tapi seri Supernova ini, menurut saya sungguh keren! Buku mereka nggak akan lepas, sebelum saya tuntas membacanya. Dan sudah dibaca berulang kalipun, saya masih bisa merasakan sensasi yang sama saat membacanya. Serial Trio Detektif yang ciamik, buku pocket Donal Bebek bagian dari deretan buku saku favorit saya. Tulisan-tulisan Spencer Johnson, M.D, Umar Kayam ... adalah beberapa nama, yang tulisannya neg"klik" buat saya. Meski saya pribadi tidak terlalu maniak dengan salah satu penulis atau genre buku. Kadangkala ... saya begitu asyik dengan buku-buku filsafat yang saya gak paham-paham artinya, tapi di satu masa, saya enjoy banget dengan buku-buku fiksi yang ringan-ringan. Tergantung mood saja. Tulisan yang enak dibaca itu memang beda ya ... ada sensasi "ngeklik"nya ama diri kita. And I want to be one of them ... tulisan saya enak di baca dan ngeklik sama pembacanya.


Lebih dari itu semua, buat saya saat ini, menulis harus menjadi sebuah keharusan dalam hidup saya. Ikatlah ilmu dengan tulisan. Perintah Rasulullah  shallallahu 'Alaihi Wasalam kepada sahabat-sahabatnya yang begitu mengetuk saya. Betapa besar makna yang tersirat dari sebuah tulisan. Dengan tulisan kita mengukir peradaban. Mencatatkan karya mengenai keberadaan dan peran kita di  bumi Allah ini. Dengan tulisan kita mampu berbuat kebaikan. Dan hanya butuh kemauan untuk melakukan semuanya.

Tulisan saya belum selevel teman-teman di kelas rumbel literasi media yang sudah jago, rapi dan enak dibaca. Tulisan saya masih begitu sederhana dengan sudut pandang saya yang sederhana juga. Kadangkala muncul rasa minder, duh ... mengapa tulisan saya tidak "seenak" tulisannya ya? Aiiih ... alih-alih saya baper, saya coba mencari hal-hal apa saja yang harus saya lakukan agar saya lebih produktif menulis.

  1. Abaikan respon. Belajar mengabaikan respon adalah hal pertama yang saya lakukan. Kalau saya baper dengan respon orang lain terhadap tulisan saya, ya ... jangan harap saya masih akan menulis. Sedih saat tulisan tidak dibaca? Aaah ... biarin aja, toh kita tidak merugikan siapa-siapa. Yang ada, merekalah yang rugi tidak membaca tulisan kita, wkwkwkwk .... (sumpah, ini kepedean!).
  2. Menulis apa yang kita sukai. Kebayang betapa beratnya menulis seuatu yang kita tidak suka. Boro-boro jadi paham, yang ada kita malah bingung sendiri dengan apa yang kita tulis. Mungkin tidak begitu berlaku buat yang sudah profesional ya. Karena tuntutan pekerjaan, menulis menjadi sebuah kewajiban meski tidak suka dengan temanya, ya ... tetap harus silakukan.
  3. Menulislah dengan gaya kita. Saya kadangkala iri dengan teman-teman penulis yang bisa bertutur dengan rapi dan teratur. Saya senang membacanya, tapi kalau sudah bagian saya untuk menulis, kenapa sangat sulit untuk dijalankan ya? Saya merasa, gaya tulisan saya begitu santai dan kadang ceplas ceplos. Tapi, dengan begini, saya merasa lebih nyaman dan merasa "gue banget". Ada ruh yang hilang, bila saya tiba-tiba menjadi rapi dan teratur, hahahaha ... 
  4. In the mood. Iyaaaaa ... ini harus kalau saya bilang. Menulis akan terasa memiliki ruh, saat kita menuliskannya pada saat kita in the mood. Hei, mood itu bisa macam-macam yaa ... Bisa mood marah, kesel, sedih, gembira ... atau mood terpaksa, hahahaha ... apapun, in the mood ini bisa kok kita ciptakan. Membayangi peristiwanya dan berada dalam me time saat melakukannya, seenggaknya 11 12 lah dengan kejadian sesuangguhnya yang sudah terlewat. 

Jadi, apakah menulis ini passion saya? Lebih baik jangan tanyakan ...  karena sayapun bingung  harus menjawab apa. Biarkanlah rasa cinta saya dengan kegiatan ini, tumbuh secara natural, dan belajar mencintai kegiatan menulis ini dari langkah yang paling awal, yaitu diri sendiri. Dari kegiatan menulis inilah, sayapun belajar untuk memantaskan diri, menghasilkan karya dan mulai mengukir peradaban. Meski berawal dari "keterpaksaan" menyetor satu tulisan tiap minggunya di kelas rumbel literasi media di IP Semarang, tapi saya mensykurinya, karena dari situlah saya akan memulainya. Buat saya, menulis adalah sebuah keterpaksaan kebaikan hidup. Kitalah yang membuat hidup menjadi bermakna atau tidak, bukan orang lain. Dan tangan kitalah yang mengukir cerita demi cerita agar kelak mampu kita wariskan sebagai bagian dari hidup kita.



#OneWeekOnePost
#RumBelLiterasimedia
#IPSemarang



8 komentar:

  1. I like the way you tell your story mbak
    For me, it's an easy reading, tapi tetep "dalem" maknanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaah, belum sebaik dirimu untuk menuliskannya mbak. Anyway ... tengkyuuuuuu

      Hapus
  2. Selalu suka dengan cara mbak bertutur didunia nyata maupun alam Maya ini..hangatnya mengalir sampai jauuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan tiba-tiba serasa menjadi "bengawan solonya" ... mengalir sampai jauh hahahaha ... love your story too mba 😚

      Hapus
    2. bahasa tulisannya mba menggoda dan menggigit. saya suka suka suka 😎

      Hapus
    3. Hahahahaha ... menggoda dan mengigit, hihihi ... eniweiiiii, tengkyuuuuh mba Fauzia

      Hapus
  3. Aku juga suka JK Rowling mba 😍 tulisan mba indah juga enak banget dibaca. Masyaallah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss dululah buat mamak Rowling yang berhasil menghipnotis kita hahaha ... terima kasih ya mb Risqi untuk apresiasinya, mood booster banget!

      Hapus

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...