Sebagai ibu yang bekerja di ranah publik, mutlak bagi saya untuk pintar-pintar 'mencuri' dan memanfaatkan waktu bersama anak-anak. Sesingkat apapun waktunya, saya usahakan bisa memaksimalkannya sebaik mungkin. Dan saat-saat mengantar sekolah, adalah saat yang sering saya manfaatkan untuk menyampaikan hal-hal penting. Morning Talk is one of my favorite way to make a communication with my girls.
Pagi ini, tugas saya mengantar Jani dan mb Danish. Mereka satu sekolah. Perjalanan ke sekolah, memakan waktu 10 hingga 15 menit, dengan menggunakan mobil. Terkadang memakan waktu lebih, tergantung situasi lalu lintas hari itu. Dengan catatan, kecepatan mobil sedang dan si emak nggak tergiur untuk mampir ke lapak jajanan pagi.
Alhamdulillah ... pagi ini lalu lintas lancar. Dan obrolan kami berawal dari mb Danish yang menanyakan kembali informasi yang cukup viral di kalangan WA group, tentang beberapa game online yang dianggap berbahaya. Salah satunya adalah Mobile Legend, game yang juga dimainkannya (meski saya tahu, Danish bermain game tersebut hanya di hari Sabtu dan Minggu. Karena hanya hari itu dia berkesempatan menggunakan gadgetnya).
"Bun ... waktu Bunda bilang game Mobile Legend itu termasuk game berbahaya, aku dan teman-temanku pada nggak setuju sih. Soalnya, aku ama temenku baik-baik aja. Kami kan nggak jadi jahat gitu kok ... trus jeleknya gamenya tuh dimana? Seru tau Bun, mainnya bareng ama temen-temen", nyerocosnya mencoba untuk mencari pembenaran.
"Mbak nggak ngerasa itu bahaya?," tanya saya
"Hmmm ... dimana bahayanya Bun?"
"Ntar kamu ikut-ikutan kayak yang di game mbak", sambar Jani
"Ya nggaklah ... buktinyakan aku nggak, biasa saja," bela Danish.
Nah, saat-saat seperti inilah saya biasanya akan menyampaikan panjang kali lebar kali tinggi, hehehe ... pandangan dan nilai-nilai saya, ke anak-anak. Kenapa ada hal-hal yang harus dilakukan, dan yang tidak boleh dilakukan. Meski perjalanan mengantar sekolah itu singkat, tapi buat saya efektif banget. Ya, ngomongnya jangan panjang-panjang juga sih.
"Pengaruh buruk itu sering tidak langsung dampaknya, mbak. Coba perhatikan isi game Mobile Legendnya mb Danish, pasti deh ada adegan pukul, tendang, bahkan bunuh. Iya nggak?".
Sekilas saya lihat, mereka berdua mengangguk. Oke kita lanjut.
"Nah, kalau kalian sudah terlalu sering melihat hal-hal kekerasan seperti itu di game, dan itu hal biasa bahkan kadang justru dapat poin kalau melakukannya, coba pikirkan ... gimana dalam kenyataan sehari-hari. Kamu juga akan diam dan cuek saja saat melihat hal yang sama seperti di game. Bahkan menganggapnya wajar. Gimana perasaan kamu saat lihat orang dipukul, ditendang, dikasari di depan kamu?"?
"Jadi cuek gitu ya Bun, nantinya kita?," tanya si auditori saya, Jani
"Iya dek ... duh miriskan?. Masak ada orang yang disakiti kita diam saja? Padahal, barangkali kita bisa membantu orang itukan?. Bener gak sih, sikap kayak gitu?".
"Ya nggaklah ....", saut mereka kompak.
"Iya deh, nanti aku ingatkan lagi ke temen-temen. Apa yang tadi bunda bilang, aku ceritain ke teman-temankuku bun., biar mereka tau, kenapa Mobile Legend itu bahaya," terang Danish.
"Tuh Bun ... yang kasusnya murid mukulin gurunya sampai meninggal, itu ya ... gimana ya Bun. Nggak ada yang melerai ya?, tanya Jani.
"Adek tau berita itu juga?"
"Iya, temen-temenku pada cerita. Ih ... kok jahat ya bun, sama gurunya. Kan kata bunda, gak boleh ngelawan guru, itu kok malah mukulin sih? Sampe meninggal pula, kan kasihan anak pak Gurunya nggak punya Ayah lagi. Aku kalau ada yang kayak gitu di kelas, aku laporin ke guru, bun".
| sumber : from google |
Dan nggak terasa, waktu 15 menit di perjalanan ... sampailah kami di sekolah, 06.25 wib. Perbincangan "berat" tapi hangat yang saya rasakan di pagi tadi. Dan saya bersyukur, dari diskusi singkat kami tadi, Jani sebenarnya sudah banyak sekali belajar, tentang kepedulian, keprihatinan, juga tentang keselamatan diri. Bukan soal game ini berbahaya atau tidak, tapi lebih ke soal kesiapan anak-anak saya memainkannya. Penyaringan informasi yang di dapatnya haruslah terus diupayakan. Dengan arahan kita sebagai orang tua, biarlah mereka memutuskan sendiri, apakah baik untuknya atau tidak.
Disambi menyetir, dan curi pandang (Jani duduk di kursi depan), Jani tuh senang sekali bila diajak berdiskusi. Dan diapun akan menjadi pendengar yang baik, saat ada yang berbicara. Saat saya menyampaikan sesuatu, saya sering jumpai, pandangannya sepert menerawang, berkelana ... dan matanya tidak terlau sering kontak ke saya, tapi raut wajah dan body languagenya menunjukkan kalau dia mengikuti pembicaraan saya dan interest tentang apa yang saya bicarakan. Kenapa saya bilang begitu, meski terkesan "cuek" karena tidak menatap saya langsung saat berbicara, ya ... karena Jani memang memanfaatkan indera pendengarannya. Tipikal auditori banget nih anak.
*Ups ... maaf, ga ada foto diskusi di dalam mobil yang terabadikan. Mamak lagi pegang setir, gak mungkin juga mau action ambil foto, bahaya!.
#TantanganHariKe7
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.