Kamis, 08 Februari 2018

Tipe Pembelajar Auditori Lingustik


Hingga saat ini, saya belum pernah mencoba menggunakan metode rekaman untuk mengajarkan si auditori saya, Jani, saya merasa yakin saja bahwa dengan metode rekaman itu pasti hasilnya akan baik, karena memang disitulah kekuatannya dalam mengolah informasi.

Saya senang mengamati gaya, sikap dan caranya saat mencerna informasi. Kadang-kadang, sikapnya sekali dua kali terpengaruh dengan gaya belajar visual dan kinestetik, tetapi masih tetap dominan dengan gaya auditorinya. Kalau selama ini saya cuek mengamati sikapnya, kali ini saya benar-benar memperhatikannya. Mulai dari pandangan matanya, ekspresi wajahnya hingga cara dia berbicara (hehehe ... dan tiba-tiba saya merasa sedang mengamati peserta kelas Public Speaking yang sedang maju ke depan kelas).

Yang menarik, gaya belajar anak itu dipengaruhi salah satunya adalah pola asuh dari orang tua. Bila anak dari kecil terbiasa dibacakan cerita atau dongeng, maka kemampuan pendengarannya terasah denga baik, sehingga anak akan cenderung memilki gaya belajar auditori. Begitupun dengan visual dan kinestetik. Rangsangan yang diberikan secara terus menerus, pasti akan mengasah kemampuan anak sehingga mereka cenderung memilki gaya belajar yang akhirnya menjadi gaya yang dominan baginya.

Dan ya ... sejak kecil, anak-anak, termasuk Jani, memang terbiasa saya bacakan dongeng sebelum tidur. Sampai sekarangpun Jani masih suka dibacakan dongeng oleh saya. Bahkan, mba Ida. yang tinggal di rumah Eyang, dan Jani biasanya tidur dengannya, bila menginap di rumah Eyang, juga ikutan melakukan hal yang sama, membacakan Jani dongeng atau cerita sebelum tidur. Seringkali pada saat saya membacakan cerita, posisi Jani membelakangi saya (saya dalam posisi tidur juga di sampingnya). Dulu, saya pikir dia tidak mendengar, sehingga saya sudahi membacanya, tetapi pada saat saya berhenti membaca, dia pasti membalikkan badan dan protes, mengapa ceritanya disudahi. Hahaha ... ternyata dia menyimak. Sekarang, bila saya membaca dan dipunggunginya, itu mah sudah biasa ...


Selain auditori, Jani juga menurut saya tipe pembelajar LINGUISTIK. Dimana menurut materi Diklat PAUD yang diselenggarakan oleh HIMPAUD Kab. Bantul tahun 2009, bahwa tipe linguistik tersebut memilki ciri-ciri sebagai berikut :

Berpikir : Dalam kata-kata
Saya sering mengamatinya saat dia berpikir. Seperti menerawang. Saya paham, dia tidak melamun, tapi sedang berpikir, karena terlihat di raut wajah kalau dia sedang berpikir dan seringkali seperti bergumamam keras tentang apa yang dipikirkannya.

Menyukai : membaca, menulis, menceritakan, bermain kata-kata 
Jani termasuk anak yang suka membaca, tetapi nggak suka menulis. Dia senang menceritakan kembali apa yang dibacanya.

Membutuhkan : Buku-buku, kertas, diary, dialog, diskusi, cerita-cerita, dsb.
Jani menyukai diskusi. Dia senang sekali kalau terlibat dalam sebuah diskusi. Dia mampu menjadi pendengar dan pembicara yang baik pada saat berdiskusi. Karena dia seorang pendengar yang baik, Jani sangat menyukai cerita, baik yang dibacakan ataupun yang ceritakan langsung.

Dan, hari ini ... Jani belajar membuat sandwich telur mata sapi, karena dia melihat bekal temannya dan ingin mencobanya di rumah. Selama proses pembuatan, setiap step, mulutnya gak berhenti berkicau. Menginstruksikan emaknya agar telur ceploknya, matang sesuai dengan yang diinginkannya. Kemudian, dia juga menjelaskan ke saya, step-step mengoles rotinya dengan margarin agar merata. 

Yes, she love talk so much! Hahahaha ... 


#TantanganHariKe8
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...