Minggu, 28 Oktober 2018

To Be A Better Person


Dokter.
Insinyur.
Penerbang.
Menteri.
Penyiar TV.
Motivator.
Bussiness Woman.

Dan tidak satupun dari cita-cita masa kecil saya yang saya tulis di atas, tercapai. Meski ada satu yang nyerempet (penyiar TV jadi penyiar radio), saya rasa ... cita-cita masa kecil saya sudah menguap entah sejak kapan.

Menyesalkah saya? SAMA SEKALI TIDAK. Saat saya sudah menikah dan akhirnya punya anak, saya punya cita-cita baru. Saat saya mulai berkomunitas, sayapun punya cita-cita yang baru juga. So, apa sih maumu mak? Cita-cita kok banyak men.

Perubahan cita-cita, sependek yang saya pahami sangatlah wajar. Bertambahnya pengalaman dan kenyataan yang dijalani, semua memiliki peran dalam membentuk kerangka berpikir kita. Itu juga memberi amunisi untuk kita bersikap dalam hidup. Perubahan cità-cita ini saya rasakan sejak saya memiliki banyak peran. Tapi garis merah dari semua aneka ragam cita-cita saya itu adalah saya ingin menjadi orang baik (better person then yesterday). Terlalu filosofis? Bisa jadi. Karena, apa coba tolak ukur dari orang baik itu, subjektifkan?

Picbfrom Google

Buat saya sekarang, cita-cita saya bukan lagi personal goal tapi udah menjadi kolektif. I am not to be a star I wants to be makes some stars. Di keluarga, cita-cita saya ndompleng ke cita-cita pak suami dan juga anak-anak. Di pekerjaan, cita-cita saya menyatu dengan cita-cita perusahaan dan tim, dan di komunitas, cita-cita saya melebur bersama cita-cita sekelompok ibu-ibu pembelajar.

Ing ngrasa sung tuladha Ing madya mangun karsa In Karsa, Tut wuri handayani. 

Semboyan dari Ki Hajar Dewantara ini, sungguhlah tepat. Saya ini saya ada dalam proses memahami dan menjaoankannya dalam kehidupan saya. Saat saya di depan, maka saya haruslah menjadi contoh yang baik. Memberikan teladan yang menginspirasi. Berada disamping agar bisa menemani dan di belakang untuk mensupport.

Posisi di samping dan di belakang ini, buat sebagian orang barangkali bukanlah posisi strategis. Bisa jadi, adalah orang yang paling babak belur, tapi tak terdengar. Heiii c'mon ... emak-emak kayak saya, buat saya pribadi, sudah tidak perlu pengakuan. Saya jauh lebih nyaman, saya bisa menjadi bagian dari kesuksesan orang. Bukankah setiap bintang butuh tepukan tangan? Nah, saya berada di situ.

Karena usiakah?
Tidak juga. Entahlah, saya merasa saya sudah cukup. Cukup dalam pengertian bahwa saya tidak butuh pengakuan. Jujur, saya merasa tidak perlu sama sekali. Seorang teman bilang, itu bahaya untuk karirmu. Saat kamu merasa sudah cukup dengan apa yang telah kamu dapatkan.

Salah! Rasa cukup ini lebih untuk warning ke saya sebenarnya. Karena ada yang lebih penting dibanding  sibuk dengan pencapaian-pencapaian pribadi. Ada yang lebih besar dari itu. Bagaimana mungkin saya bisa membuat sinar seseorang terang benderang disaat yang sama saya sibuk juga untuk menyilaukan banyak orang. Saya harus tau, kapan sinar saya dibutuhkan. Mumgkin tidak perlu terlalu menyilaukan tapi cukup umtuk menerangkan saat gelap gulita (kok serasa markom PLN ya?).

Saya mengimani, saat kita berusaha untuk memuliakan orang lain, maka saat itulah Allah akan memuliakan diri kita. 

Kalimat ini sungguh ampuh merubah pola pikir saya. Dan berdampak menjadi sikap dan perilaku saya yang juga berubah. Saya tidak pernah merasa sia-sia saya ada di belakang. Saya tidak pernah merasa sebal karena orang tidak kenal saya. Saya tidak pernah merasa tidak berharga. Karena cita-cita saya hanya ingin menjadi a better person. That's enough.


#wanita&pena
#10dayschallange
#rumbelliterasimedia
#cita-cita
#day3




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...