Minggu, 28 Oktober 2018

Nayya, My Brass Girl


Portofolio? Jujur, saya nggak punya pemahaman yang paripurna tentang portofolio ini. Semacam "kekayaan" pribadi kitakah, materi dan nonmateri? Saya menganggapnya begitu 😃.

Pertanyaannya, punyakah? Nggak, saya nggak punya. Anak-anakpun tidak (huh, ibu macam apa saya 🤔). Tapi dulu sekali, saya pernah mencatat secara detail tumbuh kembang anak-anak. Detail! Mulai dari cegukan pertama sampai ucapan pertamanya. Reaksinya, senyumnya, bahagianya. Semua saya rekam dalam tulisan. Tapi ya itu ... cuma bertahan sampe mereka usia 2 tahunan dan sekarang catatan-catatan tentang mereka itu dismpan dalam buku yang sudah di kardusin dan kardusnya entah yang mana! Halaaghhh ... saya sungguh mengabaikan ini. 

Sekarang ... sering sekali seminar-seminar parenting yang saya hadiri, menyampaikan pentingnya portofolio anak agar kita sebagai orang tua memiliki rekam jejak kehidupan anak-anak kita. Ini perlu, agar kita bisa lebih mengarahkan mereka sesuai  dengan fitrahnya dan peran spesifik hidup mereka. 

Seperti sekarang, saya akhirnya mencoba untuk memulainya lagi 'memetakan' anak-anak saya dan saya sendiri!. Mencatat dan mengingat hal-hal detail dari hidup anak-anak saya dan hidup saya sendiri. 

Nayya, anak saya yang pertama. Sifatnya sangat easy going. Tidak pendendam dan menyukai semua kegiatan. Saya kadang kewalahan untuk mengikuti maunya apa. Jeleknya, dia bosanan. Awal-awal ngotot setengah mati untuk ikutan kursus misalnya, maka di tengah jalan dia sudah memble!. Gregetan? Pastilah ... tapi, ya sabaaarrr .... kan memang sedang dalam proses mencari, right? (Ngadem-ngademin awake dhewe). 

Sejak kelas 7, Nayya memilih ekskul marchingband di sekolahnya . Latihan marchingband ini terasa sangat berat saat mendekati perlombaan. Seperti saat-saat sekarang, latihan tiap hari dan tiap weekend bandcamp di sekolah dengan latihan sampai tengah malam. Jangankan yang menjalankannya, yang nonton mereka latihan saja, ini boyok sudah banyak tempelan koyo! How about this girl? Mengeluhkah? Ternyata tidak! Dia sangat menikmati proses latihan yang berat itu. 

Ya, dia pernah mengeluh betapa beratnya latihan yang dia jalani. Apalagi kalau sudah menyangkut hari Sabtu dan Minggu, dimana teman-temannya menikmati libur dan weekend bersama keluarga,  saat yang sama mereka sedang digojlok tentang pentingnya kerjasama tim yang baik, dibentak karena langkah yang tak sama, atau suara instrumen yang sumbang. 

Maka kami sekeluarga membuat kesepakatan. Kami tidak akan berpegian menghabiskan weekend dan senang-senang sampai dengan hari perlombaan marchingband Nayya tiba. Nayya butuh support dari kami keluarganya. Seperti usaha saya untuk selalu hadir di setiap latihannya.  Hadir menyaksikan muka letihnya. Hadir menjadi bagian dari usahanya untuk menjadi terbaik lewat latihannya ini. Mensupportnya untuk menuntaskan kewajiban dan mencintainya. Jangan membuat hal yang berat itu menjadi beban. 


Meski sangat lelah, saya bisa merasakan betapa dia sangat menikmati latihannya. Saya paham dia sudah mulai mencintai apa yang saat ini sedang dilakukannya. Dia berusaha untuk memberikan yang terbaik. Dia berusaha untuk menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai bagian dari tim menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Dan saya merasakan, tidak hanya Nayya, hal yang sama ke teman-temannya. Betapa luar biasa anak-anak ini.

Saya hadir di tengah lelahnya. Bertepuk tangan untuk disply yang berhasil mereka jalankan dengan apik dengan rasa haru dan bangga. Dan meneteskan air mata untuk setiap latihan yang berakhir pada sesi itu. Proud of you my brass girl.


#wanita&pena
#10dayschallange
#RumbelLM
#portofolio
#day4


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tengkyuuuuuu udah mampir 🌝.

Seribu Cerita Dari Dapur

Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...