Sabtu, 24 Februari 2018
Jumat, 23 Februari 2018
Menulis Keterpaksaan Sebuah Kebaikan Hidup
Menulis itu susah ... kudu dapat "mood"nya baru deh bisa ngalir tulisannya. Kudu juga banyak refrensi, agar tulisan jadi renyah kayak kacang goreng tetangga sebelah rumah yang baunya saat digoreng, duh ... sungguh menggoda. Kudu juga menguasai banyak kosa kata, biar tulisannya nggak terkesan basa-basi. Kudu banyak ide, biar orang lain tidak bosan untuk membacanya. Kudu berwawasan luas, biar tulisannya bisa jadi asyik untuk dinikmati. Kudu netral tulisannya, biar orang lain tidak merasa terpojokkan. Kudu punya pendirian, agar pembaca tau, kita bukan tipikal yang mencla mencle. Duh ... sederet kudu itu, bikin saya sudah mengekeret kayak kerupuk kesiram air. Memble duluan.
Rabu, 21 Februari 2018
Learning is Fun
Saya selalu mengingat perumpamaan ini, "Jangan kau ajarkan bebek terbang dan jangan pula kau ajarkan ikan memanjat". Dan banyak perumpamaan-perumpamaan lainnya yang sejenis, yang sering kita dengar. Kalimat itu sangat menohok untuk saya. Dan membuat saya banyak berpikir tentang apa hakikatnya belajar. Buat saya, belajar adalah sebuah proses yang harus menyenangkan. Bagaimana bisa mendapatkan hasil yang maksimal bila kita melakukannya dengan berat hati. Jadi ... ya, saya men'setting' mindset saya bahwa learning is fun
Belajar bisa menyenangkan bila dilakukan sesuai dengan diri kita, Belajar dengan cara kita. cara yang gue banget. Dengan keunikan yang dimiliki oleh masing-masing orang, tentu saja ... proses belajar ini akan muncul dalam berbagai bentuk. Hal tersebut akan muncul menjadi gaya yang khas, unik. Keunikan ini tentu saja dipengaruhi oleh banyak faktor internal dan eksternal yang memudahkan kita untuk menyerap dan mengolah informasi (proses belajar) untuk menjadi ilmu yang bermanfaat.
Jadi ... apa yang saya rasakan selama hampir dua pekan mengamati Jani menemukan gaya belajarnya? Sebelum menjalankan tantangan ini, saya menyiapkan diri saya sendiri dulu bahwa tugas saya adalah mengamati dan mengenali gaya belajar Jani bukan memintanya belajar dengan gaya yang saya mau.
Jumat, 16 Februari 2018
Not Just A Smile
Meski ini sudah di bulan kedua di tahun 2018, rasanya masih sah-sah sajakan bila kita berbicara soal resolusi. Belum basi kok, hehehe ...
Apa sih resolusi itu?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, resolusi adalah pernyataan tertulis yang berisi tuntutan tentang suatu hal (klik di sini). Jadi, resolusi itu memang harus ditulis tentang apa yang kita inginkan. Iya, tertulis ... agar lebih diingat dan nancep!
Perlukah kita memiliki resolusi?
Setiap orang punya pendapat masing-masing. Tapi kalau menurut saya sih perlu, karena resolusi yang kita buat di awal tahun bisa menjadi acuan target yang ingin kita capai. Misalnya saja resolusi kita tahun ini ingin kurus, maka sepanjang tahun kita bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menguruskan badan. Lebih terfokus karena arahnya jelas.
Dan bagaimana dengan resolusi 2018 saya?
Agak sedikit berbeda resolusi saya di tahun 2018 ini. Biasanya sih, saya selalu punya resolusi yang sama di hampir setiap tahun, menuju slim alias pengen kurus! Dan tidak pernah berhasil ... hahahaha. Karena mungkin resolusi sebelum-sebelumnya lebih banyak saya simpan dalam hati, tidak tertulis, hanya di batin saja. Nah, bisa jadikan ini penyebab mengapa resolusi yang saya buat, banyakan gagalnya.
Iya, senyum. Mungkin resolusi yang terlalu simple untuk sebagian besar orang, tapi tidak dengan saya. Entah mengapa, saya termasuk orang yang tidak begitu suka senyum. Wajah saya yang jutek dan jarang senyum ini, bikin orang banyak yang sudah illfeel duluan kalau melihat saya. Apalagi bila saya ada di lingkungan yang baru. Komentar dan kesan pertama orang-orang hampir 100% seragam! Sombong, jutek, galak, judes ... dan berbagai deriviasinyalah ... dan saya jadi sudah sangat terbiasa sekali dengan label itu. Saya justru akan heran bila kesan pertama orang kebalikan dari yang biasanya saya terima.
Aaahhh gampang ... cuma senyumkan?
C'mon ... kalau nggak terbiasa dan nggak tulus melakukannya, yakin deh kekuatan dan efek super duper dari senyum itu nggak bakalan muncul. Dan saya salah satu orang yang susah banget untuk senyum. Entah mengapa. Sepertinya wajah ini sudah disetel dengan tampang yang serius dan galak. Apalagi kalau saya diminta harus berbasa-basi dengan senyum yang juga basa-basi. Duh, saya lebih milih melipir diam-diam, hehehehe. Mungkin pernah ngerasain senyum basa basi dari orang yang kita temui, garing bangetkan? Dan itu bikin suasana nggak nyaman. Yakin deh, senyum yang tulus itu memang keluar dari hati yang tulus juga.
Senyum memang memberikan banyak manfaat. Fakta-fakta ilmiahpun memberikan banyak penjelasan dan bukti bahwa senyum penting bagi kesehatan diri kita. Silahkan baca di sini .
Jadi ... ya, buat saya senyum itu penting sekali. Selain membuat tubuh menjadi lebih sehat dan awet muda (uhuk ... ini efek samping yang sangat diharapkan untuk emak-emak yang sudah 40thn lebih). Bagi saya senyum adalah bahasa universal yang memiliki seribu makna dan kekuatan. Senyum itu menular, dan senyum yang tulus dan bahagia itu adalah kekuatan yang maha super. Senyum membuat orang yang melakukannya dan yang menerimanya merasa bahagia. Dari senyum, saya bisa belajar banyak ... bahwa untuk dapat memberikan senyum yang tulus, maka saya harus berbenah diri dulu agar mampu menjadi pribadi yang tulus penuh rasa syukur. Untuk bisa memberikan senyum yang bahagia, maka saya harus bahagia terlebih dahulu. Untuk memberikan senyum yang menyemangati, maka saya haruslah menjadi pribadi yang supportif dulu. Banyak usaha untuk berbenah agar diri ini menjadi pribadi yang lebih baik.
Meski terlihat simple dan sederhana, tapi inilah resolusi terberat saya. Salah besar kalau dibilang ... it's just Smile. No .. it's not just a smile ... it's about life and learn how to be a better person. Dan saya sedang belajar menjalaninya sepanjang tahun ini ...
So, smile ... cheers
Indah πππ
Semarang, 15 Februari 2018
Kamis, 15 Februari 2018
Mengenal Lebih Dekat Si Linguistik Auditori
Apa sih pentingnya bagi kita untuk mengetahui gaya belajar seseorang?Gaya belajar berhubungan dengan cara belajar yang paling disukai dan efektif bagi seseorang saat belajar (pembelajar). Bagaimana seseorang dapat menangkap sebuah informasi dengan lebih mudah dan mengolahnya menjadi sebuh ilmu yang bermanfaat. Karena setiap orang dilahirkan dengan keunikan, maka begitupun dengan gaya belajar. Setiap orang akan berbeda, karena gaya belajar ini tergantung dari banyak faktor, salah satunya pola asuh orang tua.
Dari awal, gaya belajar Jani sudah terlihat jelas, dia dominan auditori. Ini saya sadari, gaya belajar auditori ini, sebagian besar sumbangasih dari saya, emaknya yang selalu dan sering membacakan cerita, dongeng dan senang bercakap-cakap sejak di bungsu ini dalam kandungan saya, hingga saat ini. Pola asuh yang saya terapkan kepadanya, sangat berdampak terhadap gaya belajarnya sekarang, dan juga gaya belajar kedua kakaknya yang juga dominan auditori.
Di akhir hari tantangan ini, saya mau merangkum apa yang sudah saya amati dalam proses Gaya Belajar Jani. Selama 15 hari berturut-turut, sayapun mencoba menajamkan panca indera, agar tidak ada yang terlewat apa yang dapat saya amati terhadap gaya belajarnya.
Sebagai si auditori, Jani jelas sangat mengutamakan panca indera pendengarannya. Karena memang inilah pusat pengolahan informasi bagi si auditori. Selain itu, bungsu saya ini juga sangat linguistik. Dia sangat menyukai diskusi, berkata-kata, bercerita, buku-buku, membaca dan juga menulis kata-kata. Inilah list yang saya amati dari Jani, si linguistik auditori ini.
1. Suka mendengarkan cerita atau bercerita
Jani sangat suka mendengarkan cerita. Dia bisa terhanyut dengan cerita yang saya bacakan. Dia juga sangat suka dengan perubahan volume suara, intonasi, ritme, dan lain-lain. Kadang dia malah membelakangi saya pada saat saya bercerita. Yang dibutuhkannya, hanya suara saya, hahahhaa
Jani sangat suka mendengarkan cerita. Dia bisa terhanyut dengan cerita yang saya bacakan. Dia juga sangat suka dengan perubahan volume suara, intonasi, ritme, dan lain-lain. Kadang dia malah membelakangi saya pada saat saya bercerita. Yang dibutuhkannya, hanya suara saya, hahahhaa
2. Mudah mengingat ucapan orang lain
Saya seringkali diingatkan Jani bahwa saya pernah mengucapkan sesuatu yang saya sendiri kadang sudah lupa pernah mengucapkannya.
3. Mudah terganggu/teralihkan perhatiannya oleh suara yang berisik
Dia butuh sekali suasana yang tenang saat belajar. Dan hal ini seringkali jadi masalah di rumah kami, karena dua orang kakaknya seringkali usil saat si bungsu ini lagi mencoba untuk serius belajar, hahahaha ...
4. Membutuhkan suasana yang nyaman dan rileks saat belajar
Tipe anak auditori ini, sepertinya semakin ditekan semakin tidak bisa berpikir. mereka tipikal yang sangat santai dalam belajar. Suasan yang tidak mebuatnya stress, sangat mendukung keberhasilannya belajar.
5. Menyukai diskusi
She loves it very much!. Dan yang paling menyenangkan menurut saya adalah si auditori ini adalah teman diskusi terbaik. Dia tahu, kapan saatnya menjadi pendengar yang baik dan kapan saatnya dia harus berbicara.
6. Menyukai buku
Si auditori ini menyukai buka karena dia suka akan cerita-cerita. Menrut saya, mengajarkan sesuatu kepadanya lewat cerita dari buku adalah salah satu cara yang efektif.
7. Suka membaca dengan suara keras
Iya, dia sangat suka membaca dengan bersuara keras. Dulu, saya menganggapnya sebagai salah satu trik dia utuk cari perhatian, tapi ternyata ya memang itu adalah salah satu ciri anak auditori dalam mengolah informasi (belajar).
8. Pendengar yang baik
Ini adalah bagian yang terbaik dari si auditori menurut saya, hahahahha. Jadi pendengar itu susah loh, apalagi pendengar yang baik. Dan Jani saya, mampu melakukannya. Karena memang lewat indera pendengaranya lah dia mengolah semua informasi, jadi sudah jaminan kalo anak-anak auditori (yang dominan ya) adalah pendengar yang baik.
9. Suka permainan peran
She loves acting. Iya, dia seringkali menjadi guru IPS saat belajar tentang IPS, atau berubah menjadi guru agama saat sedang menghafal Asmaul Husna kepada murid-murdi imajinernya. "Berperan menjadi" ini, adalah salah satu cara yang efektif juga bagi si auditori untuk belajar.
![]() |
| Nyaman Jani sebelum belajar adalah salah satunya berpakaian yang "aneh". Lagi berperan sebagai ibu guru dengan aksesoris lap yang dan pashmina bundanya yang diuwel-uwel jadi scarf π€£π€£π€£ |
Dari pengamatan selama lebih kurang dua pekan terhadap gaya belajar si linguistik auditori ini, saya bisa menyimpulkan sedikit, hal-hal apa saja yang bisa disiapkan untuk menunjang si lingusitik auditori ini bisa optimal belajar.
- Bila anak belajar masih dibimbing orang tua, maka orang tua harus belajar cara membaca dan bercerita yang baik. Anak-anak auditori ini sangat peka terhadap intonasi, volume suara dan hal-hal yang berhubungan dengan membaca indah.
- Jadilah teman diskusi yang menyenangkan. Siapkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.
- Perkaya diri kita dengan banyak membaca, karena si auditori ini sangat menyukai cerita-cerita.
- Gunakan kata-kata yang positif. Mereka cukup sensitif terhadap kata-kata yang kita gunakan.
- Ciptakan suasana yang nyaman dan lingkungan yang rileks pada saat mereka belajar.
- Sediakan berbagai macam buku-buku yang disukainya dan juga peralatan rekaman
- Si auditori ini juga suka menulis apa yang dipikirkan dan dirasakannya.
Saya berharap, pengamatan selama lebih kurang dua pekan ini, membantu saya untuk bisa mengoptimalkan gaya belajar Jani. Karena dengan mengoptimalkannya, maka hasilnyapun akan maksimal dan bisa memberikan manfaat untuk dirinya dan juga orang lain. Dengan gaya belajar yang disukainya berharap proses belajar yang dilakukannya akan berjalan menyenangkan. Bukankah pada saat senang, daya serap akan transfer ilmu akan mencapai titik maksimalnya? Maka, inilah sebenarnya tugas saya. Mencari, mengamati dan menerapkan cara-cara belajar yang menyenangkan yang sesaui dengan gaya belajarnya yang linguistik auditori.
Dan selama dua pekan ini sayalah yang sebenarnya belajar dari Jani. Menghadapi si auditori ini mengajarkan saya untuk lebih mampu menjadi "pendengar yang baik untuk anak-anak. Mengajarkan saya juga bahwa belajar adalah hakikat hidup kita. Jadi nikmatilah dengan hati yang senang.
#HariKe15
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
Rabu, 14 Februari 2018
Saat Malas Melanda
Pernah merasa bosan? Jenuh? Semua pasti pernah merasakannya ya. Dan hari ini, Jani bilang ke saya kalau dia bosen belajar. Dia nggak mau belajar, maunya tiduran aja, waaaahhh ...
![]() |
| Serius dengerin emaknya baca cerita |
Meski dia bilang males belajar, proses mengamatinya jalan terus donk. Ternyata, si auditori ini dalam proses belajar, tidak hanya mudah terganggu dengan suara tetapi moodnya juga berpengaruh banyak. Dia bisa tiba-tiba bad mood dan mogok belajar atau membaca kalo ada yang membuatnya merasa terganggu dan jadi badmood. Dan badmoodnya dia bisa dipicu dari banyak hal. Mulai dari keisengan dan keusilan kedua kakaknya, suasana yang berisik, sampai soal tempat belajar yang nyaman atau nggak. Sama seperti hari ini, entah kenapa tiga anak gadis ini, dari siang tadi gak ada habisnya saling ngusilin, dan berakhir si bontot, Jani, jadi bete luar biasa, hahahahaa ..
Mungkin juga karena hari ini, Jani cukup lelah (emak jemout sekolah super telat, jeweeeerrrrr kuping sendiri deh). Jadinya mudah baperan (bawa perasaan) kalau anak jaman now bilang yaa .... buktinya, belum juga cerita selesai saya bacakan, dia sudah tertidur pulas πππ.
![]() |
| Gak sampe 5 menit, langsung tertidur pulas πππ |
Jadi, biarlah malam ini dia memutuskan untuk tidak belajar karena moodnya lagi nggak bagus. Percumakan bila saya memaksakannya? Saya meyakini, semua proses yang dijalani bila dilakukan dengan bahagia, hasilnya akan jauh lebih baik. Siapapun pasti tidak mau dipaksa atau merasa terpaksa melakukan sesuatu, bahkan anak kecil sekalipun.
Selasa, 13 Februari 2018
Terus Mencoba Jangan Berhenti
Memerlukan waktu lebih banyak untuk saya bisa mengajarkan Jani memahami konsep-konsep operasi bilangan di pelajaran matematika. Dan, sampai saat ini ... saya belum menemukan cara yang paling pas untuk Jani, untuk bisa belajar matematika dengan lebih mudah. Maka, mencoba terus adalah salah satu upaya saya untuk tetap konsisten mencari dan menemukan metode yang paling pas.
Mungkinkah karena materinya "matematika"? Iya, saya memang sengaja mengambil subjek tantangan tahap ini adalah pelajaran matematika. Pelajaran yang menuntut Jani lebih ekstra untuk memahaminya. Bukan memaksanya untuk suka dengan pelajaran ini, tapi saya mau melihat, apakah metode gaya belajar si linguistik auditori ini mampu memudahkannya untuk memahami pelajaran matematika. Dan itu tentu saja perlu waktu. Tantangan ini hanya sedikit memberikan gambaran dan masukan untuk saya dapat memberikan stimulus yang tepat dengan gaya belajarnya yang linguistik auditori ini. Iya, butuh waktu dan saya harus terus mencobanya dan jangan berhenti sampai nanti menemukannya.
Metode rekaman untuk perkalian masih saya lanjutkan. Metode ini akan tetap saya pertahankan, karena saya melihat Jani enjoy melakukannya dan hasilnya cukup baik, meski dia harus bolak balik me"rewind" rekamannya untuk mengingat. Sedangkan untuk buku komunikatifnya, hari ini tetap saya cobakan. Meski hasil percobaan pertama belum sesuai harapan, tapi metode ini patut untuk saya cobakan lagi ke Jani. Karena, di metode ini, Jani memilki banyak peluang untuk berdiskusi tentang informasi yang didapatnya. Dan saya masih sangat bisa mengeksplore metode ini dengan merancang berbagai macam alat bantu pengajaran.
![]() |
| Salah satu kesukaannya saat belajar adalah suasana dan posisi yang nyaman. Nggal peduli meski itu harus tengkurap ππ |
#HariKe13
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
Senin, 12 Februari 2018
Buku "Komunikatif" Untuk Jani
Bukan maksud saya untuk memaksa Jani meyenangi matematika, pelajaran yang paling "dihindarinya". Tapi, lebih kepemahaman Jani akan operasi bilangan. Perkalian, pembagian, penjumlahan dan pengurangan adalah operasi bilangan standar dan itu menurut saya, mutlak dipahami bahkan sama seseorang yang tidak menyukai matematika sekalipun. Dan untuk sampai ke tingkat pemahaman, memang butuh waktu yang agak lama untuk Jani, bila menyagkut angka. But its okey ... emak kudu sabar dan setroonnnggg πͺπͺπͺ
Metode rekaman yang saya cobakan ke Jani adalah sebagai salah satu cara, yang ... siapa tahu, jadi cara "tercepat" Jani untuk memahami konsep tersebut. Melihat dua kali percobaan melalui rekaman, sepertinya kurang berhasil (sebanarnya nggak juga ya, karena baru 2x dan saya merasa masih bisa kok dieksplore lagi), saya coba dengan "meramu" beberapa cara, berharap menemukan metode yang paling disukai Jani untuk belajar matematika.
Jani yang linguistk auditori ini memang dominan untuk berbicara. Berpikir dengan kata-kata, menyukai buku, permainan kata-kata, bercerita dan menceritakan, maka ... buku yang komunikatif jadi pilihan saya. Kebetulan, emak nyimpan beberapa buku cerita tentang matematika (hasil berburu buku diskonan hehehehe ...) dan ini saatnya si buku kita keluarkan kembali (dulu ... dipake sama kedua kakaknya dan sempat "menghilang" buku-buku ini. Alhamdulillah, sekarang ketemu lagi, setelah bongkar gudang dan kardus-kardus .... uuuffttt nyelip diantara tumpukan buku yang akan disumbangkan. Okey, kita pinjam sebentar dulu ya bukunya).
Awalnya sih Jani tertarik dengan ceritanya. Gambar di bukunyapun memancing perhatiannya. Saya tawarkan ke dia untuk menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu, kemudian baru nanti didiskusikan satu persatu. Tapi, dia meminta saya untuk membacakannya. Pada saat kami mendiskusikan soal kelipatan dan hitung-hitungan yang ada di buku cerita, saya membutuhkan alat bantu lain, yaitu kertas dan kalender bekas untuk menggambarkan ulang dan maksud dari isi cerita mengenai kelipatan tersebut. Dan diapun teteeeeepppp, meminta emaknya untuk bercerita sambil menerangkan maksudnya hahhahaha ...
Ini adalah percobaan pertama menggunakan buku yang komunikatif. Meski buku ini sudah dilengkapi dengan gambar yang menarik dan cerita, untuk memahaminya Jani masih harus menggunakan media tambahan, yaitu kertas dan kalender bekas. Waktu saya menerangkan hanya dengan memperlihatkan, dia masih tidak paham. Kemudian saya memintanya untuk menulis di kalender dan melakukan apa yang dia baca dicerita tersebut. Sambil menernagkan maksud dari angka-angka yang tertulis di buku cerita tersebut. Disini, dia mulai paham dan cukup mengerti mengenai konsep operasi bilangan kelipatan.
Saya lihat, dengan cara ini, Jani masih membutuhkan arahan dan bantuan dari saya untuk memahami ceritanya. Dipercobaan pertama dengan buku komunikatif ini, belumlah terlalu sukses. Tak mengapa, karena ini semua proses belajar. Tapi, dari percobaan ini saya semakin meyakini bahwa Jani sangat menyukai belajar dengan metode diskusi. Selalu di sesi ini, dia bisa terlihat "lepas" dan saya sebagai "lawan" diskusinya cukup paham bahwa dari "perbincangan" kami di sesi diskusi itu, dia memahaminya.
Begitupun dengan belajar matematika ini. Saya harus membuat "sesi diskusi" dulu sama dia. Mengapa ini harus dikalikan, dibagi, dikurangi atau dijumlah. Okelah ... besok kita coba lagi dengan metode buku dan alat peraga ya ... siapa tau, metode ini hasilnya bisa lebih baik. Yes, we"ll see ...
Saya lihat, dengan cara ini, Jani masih membutuhkan arahan dan bantuan dari saya untuk memahami ceritanya. Dipercobaan pertama dengan buku komunikatif ini, belumlah terlalu sukses. Tak mengapa, karena ini semua proses belajar. Tapi, dari percobaan ini saya semakin meyakini bahwa Jani sangat menyukai belajar dengan metode diskusi. Selalu di sesi ini, dia bisa terlihat "lepas" dan saya sebagai "lawan" diskusinya cukup paham bahwa dari "perbincangan" kami di sesi diskusi itu, dia memahaminya.
Begitupun dengan belajar matematika ini. Saya harus membuat "sesi diskusi" dulu sama dia. Mengapa ini harus dikalikan, dibagi, dikurangi atau dijumlah. Okelah ... besok kita coba lagi dengan metode buku dan alat peraga ya ... siapa tau, metode ini hasilnya bisa lebih baik. Yes, we"ll see ...
#HariKe12
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
Minggu, 11 Februari 2018
Mengahafal Perkalian Lewat Rekaman
Beberapa hari ke depan ini, saya mencoba metode rekaman untuk Jani. Materinya adalah menghafal perkalian. Belum terlalu sukses, kalau menurut saya. Apakah karena materinya matematika? Pelajaran yang tidak disukainya? Hahahaha ... Jani emang ga begitu suka dengan matematika. Sepertinya dia gak pernah tertarik dengan angka.
Pilihan saya jatuh ke menghafal perkalian, karena sampai saat ini Jani belum hafal perkalian, meski dia sudah paham konsep perkalian. Dan bila ada soal perkalian di mapel matematika, maka dia akan menghitung secara manual, dan itu cukup memakan waktu dalam mengerjakan soal. Maka saya memintanya untuk bisa menghafalkan perkalian 1 sampai dengan 10.
Caranya, dia merekam suaranya tentang perkalian yang masih dianggapnya sulit, yaitu perkalian 4, kemudian berulangkali didengarkan untuk mengingatnya. Pada waktu dia berhenti di angka tertentu, maka dia kembali ke konsep awal, yaitu menghitungnya dengan menggunakan jari.
Dipercobaan kedua merekam perkalian ini, meski belum terlihat jelas hasilnya, saya masih akan tetap terus mencoba, sampai Jani merasa tidak nyaman dengan cara ini. Karena saya lihat Jani masih enjoy melaksanakannya.
Namanya belajar ya ... semua orang berproses dengan caranya masing-masing, termasuk Jani π.
#HariKe11
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
Pilihan saya jatuh ke menghafal perkalian, karena sampai saat ini Jani belum hafal perkalian, meski dia sudah paham konsep perkalian. Dan bila ada soal perkalian di mapel matematika, maka dia akan menghitung secara manual, dan itu cukup memakan waktu dalam mengerjakan soal. Maka saya memintanya untuk bisa menghafalkan perkalian 1 sampai dengan 10.
Caranya, dia merekam suaranya tentang perkalian yang masih dianggapnya sulit, yaitu perkalian 4, kemudian berulangkali didengarkan untuk mengingatnya. Pada waktu dia berhenti di angka tertentu, maka dia kembali ke konsep awal, yaitu menghitungnya dengan menggunakan jari.
Dipercobaan kedua merekam perkalian ini, meski belum terlihat jelas hasilnya, saya masih akan tetap terus mencoba, sampai Jani merasa tidak nyaman dengan cara ini. Karena saya lihat Jani masih enjoy melaksanakannya.
Namanya belajar ya ... semua orang berproses dengan caranya masing-masing, termasuk Jani π.
#HariKe11
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
Sabtu, 10 Februari 2018
My First Recording
Banyak metode belajar untuk si auditori linguistik ini. Tentu saja metodenya harus bertumpu pada indera pendengaran dan juga verbal (percakapan). Karena Jani saya anggap sudah baik dalam metode diskusi, maka kali ini saya mencoba untuk menggunakan metode rekaman suara.
Metode rekaman (audio) merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan untuk gaya belajar auditori. Saya mencoba merekam pelajaran matematika, yaitu mengenai perkalian (pelajaran yang paling tidak menarik untuk Jani π). Saya rekam 1 perkalian yaitu perkalian 4, dan memintanya untuk mendengarkannya beberapa kali.
Reaksinya?
Mungkin karena cara ini merupakan cara yang baru baginya, maka antusias dia cukup tinggi. Saat saya meminta Jani untuk mendengarkan kembali rekaman perkaliannya, diapun mengikuti suara saya yang ada direkaman dengan bergumam dan komat kamit cukup keras. Iyaa, mengingat sambil berkata-kata, itu caranya mengolah dan menyimoan informasi. Setelah selesai mendengarkan rekamanya, saya coba untuk dia mengulang kembali tanpa mendengarkan rekamannya. Hasilnya? Lumayan baik menurut saya. Hafal meski belum 100% lancar. Daya ingat si auditori ini memang baik bila informasi yang kita sampaikan melalui indera pendengarannya.
Saya belum bisa memastikan, apakah metode rekaman ini salah satu metode belajar yanΔ£ disukainya seperti diskusi, meskipun di percobaan pertama, saya menilainya berhasil. Tapi, tolak ukurnyakan tidak hanya saja berhasil mencapai apa yang kita inginkan/menjadi target. Tapi, lebih ke Janinya, apakah metode rekaman ini disukainya?
Besok, saya dan Jani akan mencoba fokus dengan cara rekaman ini. Dan kita lihat beberapa hari kedepan, apakah metode ini menjadi salah satu metode belajar favoritnya.
*note : foto dan hasil recording, menyusul akan saya upload. Malam ini selalu gagal menyertakannya ... π£π£π£
*note : foto dan hasil recording, menyusul akan saya upload. Malam ini selalu gagal menyertakannya ... π£π£π£
#TantanganHariKe10
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
Jumat, 09 Februari 2018
Auditori si Teman Diskusi yang Hangat
![]() |
| Sumber : Google |
![]() |
| Ini buku yang jadi bahan diskusi hangat kami π |
![]() |
| Diskusi kami itu bisa dilakukan dimana saja termasuk saat menunggu mb Danish pulang sekolah |
Metode diskusi ini, sepertinya salah satu metode belajar yang disukai Jani. Beberapa kali saya mencobanya, dan hasilnya efektif, sesuai dengan harapan saya.
Tidak mengherankan, anak-anak auditori ini memang orang yang menyenangkan, karena mereka pendengar yang baik dan teman diskusi yang hangat.
#TantanganHariKe9
#Tantangan10Hari
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
Kamis, 08 Februari 2018
Tipe Pembelajar Auditori Lingustik
Hingga saat ini, saya belum pernah mencoba menggunakan metode rekaman untuk mengajarkan si auditori saya, Jani, saya merasa yakin saja bahwa dengan metode rekaman itu pasti hasilnya akan baik, karena memang disitulah kekuatannya dalam mengolah informasi.
Saya senang mengamati gaya, sikap dan caranya saat mencerna informasi. Kadang-kadang, sikapnya sekali dua kali terpengaruh dengan gaya belajar visual dan kinestetik, tetapi masih tetap dominan dengan gaya auditorinya. Kalau selama ini saya cuek mengamati sikapnya, kali ini saya benar-benar memperhatikannya. Mulai dari pandangan matanya, ekspresi wajahnya hingga cara dia berbicara (hehehe ... dan tiba-tiba saya merasa sedang mengamati peserta kelas Public Speaking yang sedang maju ke depan kelas).
Yang menarik, gaya belajar anak itu dipengaruhi salah satunya adalah pola asuh dari orang tua. Bila anak dari kecil terbiasa dibacakan cerita atau dongeng, maka kemampuan pendengarannya terasah denga baik, sehingga anak akan cenderung memilki gaya belajar auditori. Begitupun dengan visual dan kinestetik. Rangsangan yang diberikan secara terus menerus, pasti akan mengasah kemampuan anak sehingga mereka cenderung memilki gaya belajar yang akhirnya menjadi gaya yang dominan baginya.
Dan ya ... sejak kecil, anak-anak, termasuk Jani, memang terbiasa saya bacakan dongeng sebelum tidur. Sampai sekarangpun Jani masih suka dibacakan dongeng oleh saya. Bahkan, mba Ida. yang tinggal di rumah Eyang, dan Jani biasanya tidur dengannya, bila menginap di rumah Eyang, juga ikutan melakukan hal yang sama, membacakan Jani dongeng atau cerita sebelum tidur. Seringkali pada saat saya membacakan cerita, posisi Jani membelakangi saya (saya dalam posisi tidur juga di sampingnya). Dulu, saya pikir dia tidak mendengar, sehingga saya sudahi membacanya, tetapi pada saat saya berhenti membaca, dia pasti membalikkan badan dan protes, mengapa ceritanya disudahi. Hahaha ... ternyata dia menyimak. Sekarang, bila saya membaca dan dipunggunginya, itu mah sudah biasa ...
Selain auditori, Jani juga menurut saya tipe pembelajar LINGUISTIK. Dimana menurut materi Diklat PAUD yang diselenggarakan oleh HIMPAUD Kab. Bantul tahun 2009, bahwa tipe linguistik tersebut memilki ciri-ciri sebagai berikut :
Berpikir : Dalam kata-kata
Saya sering mengamatinya saat dia berpikir. Seperti menerawang. Saya paham, dia tidak melamun, tapi sedang berpikir, karena terlihat di raut wajah kalau dia sedang berpikir dan seringkali seperti bergumamam keras tentang apa yang dipikirkannya.
Menyukai : membaca, menulis, menceritakan, bermain kata-kata
Jani termasuk anak yang suka membaca, tetapi nggak suka menulis. Dia senang menceritakan kembali apa yang dibacanya.
Membutuhkan : Buku-buku, kertas, diary, dialog, diskusi, cerita-cerita, dsb.
Jani menyukai diskusi. Dia senang sekali kalau terlibat dalam sebuah diskusi. Dia mampu menjadi pendengar dan pembicara yang baik pada saat berdiskusi. Karena dia seorang pendengar yang baik, Jani sangat menyukai cerita, baik yang dibacakan ataupun yang ceritakan langsung.
Dan, hari ini ... Jani belajar membuat sandwich telur mata sapi, karena dia melihat bekal temannya dan ingin mencobanya di rumah. Selama proses pembuatan, setiap step, mulutnya gak berhenti berkicau. Menginstruksikan emaknya agar telur ceploknya, matang sesuai dengan yang diinginkannya. Kemudian, dia juga menjelaskan ke saya, step-step mengoles rotinya dengan margarin agar merata.
Yes, she love talk so much! Hahahaha ...
#TantanganHariKe8
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP
Rabu, 07 Februari 2018
Morning Talk
Sebagai ibu yang bekerja di ranah publik, mutlak bagi saya untuk pintar-pintar 'mencuri' dan memanfaatkan waktu bersama anak-anak. Sesingkat apapun waktunya, saya usahakan bisa memaksimalkannya sebaik mungkin. Dan saat-saat mengantar sekolah, adalah saat yang sering saya manfaatkan untuk menyampaikan hal-hal penting. Morning Talk is one of my favorite way to make a communication with my girls.
Pagi ini, tugas saya mengantar Jani dan mb Danish. Mereka satu sekolah. Perjalanan ke sekolah, memakan waktu 10 hingga 15 menit, dengan menggunakan mobil. Terkadang memakan waktu lebih, tergantung situasi lalu lintas hari itu. Dengan catatan, kecepatan mobil sedang dan si emak nggak tergiur untuk mampir ke lapak jajanan pagi.
Alhamdulillah ... pagi ini lalu lintas lancar. Dan obrolan kami berawal dari mb Danish yang menanyakan kembali informasi yang cukup viral di kalangan WA group, tentang beberapa game online yang dianggap berbahaya. Salah satunya adalah Mobile Legend, game yang juga dimainkannya (meski saya tahu, Danish bermain game tersebut hanya di hari Sabtu dan Minggu. Karena hanya hari itu dia berkesempatan menggunakan gadgetnya).
"Bun ... waktu Bunda bilang game Mobile Legend itu termasuk game berbahaya, aku dan teman-temanku pada nggak setuju sih. Soalnya, aku ama temenku baik-baik aja. Kami kan nggak jadi jahat gitu kok ... trus jeleknya gamenya tuh dimana? Seru tau Bun, mainnya bareng ama temen-temen", nyerocosnya mencoba untuk mencari pembenaran.
"Mbak nggak ngerasa itu bahaya?," tanya saya
"Hmmm ... dimana bahayanya Bun?"
"Ntar kamu ikut-ikutan kayak yang di game mbak", sambar Jani
"Ya nggaklah ... buktinyakan aku nggak, biasa saja," bela Danish.
Nah, saat-saat seperti inilah saya biasanya akan menyampaikan panjang kali lebar kali tinggi, hehehe ... pandangan dan nilai-nilai saya, ke anak-anak. Kenapa ada hal-hal yang harus dilakukan, dan yang tidak boleh dilakukan. Meski perjalanan mengantar sekolah itu singkat, tapi buat saya efektif banget. Ya, ngomongnya jangan panjang-panjang juga sih.
"Pengaruh buruk itu sering tidak langsung dampaknya, mbak. Coba perhatikan isi game Mobile Legendnya mb Danish, pasti deh ada adegan pukul, tendang, bahkan bunuh. Iya nggak?".
Sekilas saya lihat, mereka berdua mengangguk. Oke kita lanjut.
"Nah, kalau kalian sudah terlalu sering melihat hal-hal kekerasan seperti itu di game, dan itu hal biasa bahkan kadang justru dapat poin kalau melakukannya, coba pikirkan ... gimana dalam kenyataan sehari-hari. Kamu juga akan diam dan cuek saja saat melihat hal yang sama seperti di game. Bahkan menganggapnya wajar. Gimana perasaan kamu saat lihat orang dipukul, ditendang, dikasari di depan kamu?"?
"Jadi cuek gitu ya Bun, nantinya kita?," tanya si auditori saya, Jani
"Iya dek ... duh miriskan?. Masak ada orang yang disakiti kita diam saja? Padahal, barangkali kita bisa membantu orang itukan?. Bener gak sih, sikap kayak gitu?".
"Ya nggaklah ....", saut mereka kompak.
"Iya deh, nanti aku ingatkan lagi ke temen-temen. Apa yang tadi bunda bilang, aku ceritain ke teman-temankuku bun., biar mereka tau, kenapa Mobile Legend itu bahaya," terang Danish.
"Tuh Bun ... yang kasusnya murid mukulin gurunya sampai meninggal, itu ya ... gimana ya Bun. Nggak ada yang melerai ya?, tanya Jani.
"Adek tau berita itu juga?"
"Iya, temen-temenku pada cerita. Ih ... kok jahat ya bun, sama gurunya. Kan kata bunda, gak boleh ngelawan guru, itu kok malah mukulin sih? Sampe meninggal pula, kan kasihan anak pak Gurunya nggak punya Ayah lagi. Aku kalau ada yang kayak gitu di kelas, aku laporin ke guru, bun".
| sumber : from google |
Dan nggak terasa, waktu 15 menit di perjalanan ... sampailah kami di sekolah, 06.25 wib. Perbincangan "berat" tapi hangat yang saya rasakan di pagi tadi. Dan saya bersyukur, dari diskusi singkat kami tadi, Jani sebenarnya sudah banyak sekali belajar, tentang kepedulian, keprihatinan, juga tentang keselamatan diri. Bukan soal game ini berbahaya atau tidak, tapi lebih ke soal kesiapan anak-anak saya memainkannya. Penyaringan informasi yang di dapatnya haruslah terus diupayakan. Dengan arahan kita sebagai orang tua, biarlah mereka memutuskan sendiri, apakah baik untuknya atau tidak.
Disambi menyetir, dan curi pandang (Jani duduk di kursi depan), Jani tuh senang sekali bila diajak berdiskusi. Dan diapun akan menjadi pendengar yang baik, saat ada yang berbicara. Saat saya menyampaikan sesuatu, saya sering jumpai, pandangannya sepert menerawang, berkelana ... dan matanya tidak terlau sering kontak ke saya, tapi raut wajah dan body languagenya menunjukkan kalau dia mengikuti pembicaraan saya dan interest tentang apa yang saya bicarakan. Kenapa saya bilang begitu, meski terkesan "cuek" karena tidak menatap saya langsung saat berbicara, ya ... karena Jani memang memanfaatkan indera pendengarannya. Tipikal auditori banget nih anak.
*Ups ... maaf, ga ada foto diskusi di dalam mobil yang terabadikan. Mamak lagi pegang setir, gak mungkin juga mau action ambil foto, bahaya!.
#TantanganHariKe7
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
Selasa, 06 Februari 2018
Berbeda pun Tak Apa
Sejatinya tugas yang tak pernah lekang dalam hidup kita sebagai manusia adalah belajar (menuntut ilmu). Karena dengan menuntut ilmu kita akan mendapatkan keberkahan. Ya. ilmu yang bermanfaat adalah sebuah keberkahan dalam hidup. Menurut saya, ini artinya, fitrah kita sebagai manusia adalah belajar (menuntut ilmu).
"Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta justru engkau yang harus menjaganya ..."
- Ali Bin Abi Thalib -
Bahkan dengan mempelajari hal-hal yang terlihat sederhana, banyak sekali yang dapat kita pelajari. Benar, sesungguhnya ilmu itu memang sangaaaat luas. Buka mata, hati dan pikiran kita untuk mempelajari semuanya. Utamakan adab dalam mempelajarinya agar ilmu kita bermanfaat.
Seringkali, saya merasa bahwa Jani yang dominan auditori ini, seringkali saya anggap hanya ingin didengar dan mendengar saja. Pada kenyataannya, kadang di saat-saat tertentu, dia melakukan sesuatu yang yang kontradiksi dengan apa yang kerap dilakukannya. Mungkin itu juga penyebab mengapa sebagian orang memilki kombinasi gaya belajar. Meski dominan di salah satu gaya belajar, tapi pengaruh gaya belajar yang lain, akan muncul sesekali.
![]() |
| Mencuri foto dari ruang kerja saya, saat si auditori ini lebih memilih baca dalam diam π |
Seperti sewaktu membeli buku cerita. Saya sempat mengarahkan pilihannya ke buku cerita yang tidak terlalu full colour dengan gambar yang dominan, tapi Jani tetap dengan pilihannya, full colour dan penuh gambar hehehehe.
Buat saya, apapun yang membuatnya nyaman dalam belajar (menuntut ilmu) meski itu kadangkala berbeda dengan kebiasaannya, selagi itu tidak membahayakan dan merugikan, ya ... sah-sah saja ya. Yang utama dari gaya belajar inikan, kemudahan si anak untuk menyerap informasi (ilmu) dengan lebih maksimal, sehingga ilmu tersebut menjadi bermanfaat.
Berbeda sekal-kali ... nggak apalaah ....
#TantanganHariKe6
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
Senin, 05 Februari 2018
Telingaku yang Super Power
Pernah donk sebal sama seseorang, karena pesan yang kita sampaikan ternyata sudah berubah versi? Alias pesan kita kok jadi beda? Maksudnya bilang A, kenapa jadinya C?
Hahahaha ... sering kalau saya mah. Kadang saya bingung, dimana salahnya ya?
Mungkin tidak ada yang salah, tapi barangkali pesan itu tersampaikan melalui orang yang "salah". Mungkin dia bukan tipikal auditory, jd pesan yang didengar tidak akan sedatil yang kita sampaikan. Bagi si Auditory, telinga adalah The Super Power, kekuatan supernya.
Bagi Jani, si Auditory saya ini, kata-kata yang pernah saya sampaikan, mampu diingatnya dengan baik. Bahkan kadang saya sendiri sudah lupa mengucapkannya, tapi dia masih ingat, bahkan sampai ke detailnya hahahahaha ....
Hari Minggu kemarin, adalah jadwal saya dan tiga anak perempuan ini, hang out. Girls Day Out. Ngapain aja? Wah, macem-macem sih ... tapi biasanya kami makan. Ngobrol sambil makan atau cerita apa saja kejadian yang dialami mereka, sampai kadang-kadang tertawa hingga perut sakit hahahaha ... dan NO GADGET! (Kecuali emak, boleh bawa ... hahahaha nggak fair ya. Tapi digunakan saat-saat darurat saja). Suasana yang rileks dan santai itu, ternyata memang waktu yang tepat untuk 'belajar".
Saya sudah niatkan, hari ini, Jani harus bisa belajar tentang sesuatu. Mempelajari tentang apanya, memang tidak saya tetapkan. Saya ingin hal tersebut muncul secara alami, seperti hari Sabtu yang lalu. Kenapa perlu saya niatkan? Karena bisa jadi saya melewatkan momen-momen penting proses belajarnya. Jadi, sayapun pasang mata dan telinga baik-baik untuk bisa menangkap dan mengingatnya, bila perlu mengabadikannya.
"Bun, ingat nggak. Kata Bunda, kalau nilai ulangan dapat 100, maka hadiahnya buku cerita. Kan kemarin, adek dapat nilai 100 tuh ulangannya, jadi boleh ya kita nanti mampir Gramedia beli buku cerita?"
Saya mengangguk mengiyakan.
Saya amati, sebelum menyampaikan sesuatu, Jani seringkali menggunakan kata INGAT atau sesuatu yang dulu pernah didengarnya.
"Inggat nggak ...."
"Masih ingat nggak ... "
"Bunda pernah bilang ..."
"Kan kata Bunda ..."
Nah, seringnya Jani menggunakan kata-kata "INGAT" dan "DULU BUNDA PERNAH NGOMONG ..." ini masuk ke gaya bicara anak apa ya?
Kalau menurut saya ... ya Auditory (cmiiw) karena biasanya anak-anak auditory itu kalau berbicara suka menggunakan kata "seingat saya ..." atau "saya pikir ..." . Kemampuan mengingatnya cukup baik bila pesan yang disampaikan lewat indera pendengarannya, karena memang telinga adalah si Super Power buat mereka.
| Salah satu foto sebelum instruksi π€£ |
Saya dengarkan Jani memberikan instruksi ke kedua kakaknya, berdasarkan pesan dari saya. Cukup baik dan jelas instruksinya.
"Dengerin aku sik to mbak ... biar nanti fotonya lebih bagus," instruksi tegasnya ke mba Nayya, saat si sulung ini malah sibuk dengan lagu Korea yang didengarnya dari loudsepeaker di venue, yang seakan-akan nggak mengacuhkan Jani saat bicara.
Iya, Jani mudah sekali "terganggu" dan terlaihkan perhatiannya bila saat dia berbicara, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang berisik dan ramai. Dan saat, mbak Nayya dan mbak Danish mengajarinya untuk berpose, dia terlibat aktif dalam diskusi tersebut. Menyimak dan mengulangnya kembali apa instruksi yang dismapaikan oleh kedua kakaknya.
| Hasil salah foto setelah instruksi ππ |
Telingamu memang si Super Powermu dek.
Good Job ...!
#TantanganHariKe5
#Tantangan10Hari
#GameLevel4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunSayIIP
Langganan:
Komentar (Atom)
Seribu Cerita Dari Dapur
Dapur? Ini bagian rumah yang tidak terlalu sering saya sentuh. Bukan karena tidak bisa masak, tapi karena memang saya tidak begitu suka ...
-
Single Fighter? Seringkan dengar istilah ini? Kalau menurut kamus Inggris-Indonesia https://kamuslengkap.id , single fighter artinya ada...
-
Apa yang membuat kita bahagia? Jawaban setiap orang pasti berbeda. Meski kadang memiliki jawaban yang sama, tapi pasti memiliki detail...






























